Semara Sepi Bulan Padang
Dalam kelam yang begitu pekat, kuhirup satu-satu kewangianmu. Dan kuraba kesejatian keinginan ini dalam sunyi yang begitu dingin menusuk. Aku mau ini menjadi rahasia.
(Bunga itu terus bergoyang, dan aku terus menatap dalam gelap meradang yang pekat, menusuki rongga dada perlahan-lahan. Amat perlahan-lahan.)
Dalam kelam pekat yang mulai gulita, kurasakan kesejatian menggumpal: kuingin kau tangkup aku dalam posesimu, yang angkuh sekalipun. Rantai aku dengan pesona itu sesukamu, rembulan padang. Taklukkan aku di ujung kakimu.
(Bunga itu kini menari, dan aku terus menatap dalam kepekatan panjang hingga di perut malam. Rongga dadaku kian tersayat perlahan-lahan. Terlalu perlahan.)
Kau kini tahu perlawanan itu telah terhenti.
Maret-April 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment