Aku, Dia, dan Sore yang Panjang II
Jarum itu terus merayap
pada harapan dan kesia-siaan
seperti sebelumnya
Narasi berjajar
dalam selayang asap
yang buram
tidak muram
hingga malam.
Jarum itu terus merayap
masih pada harapan dan kesia-siaan
masih seperti sebelumnya
semakin panjang dan mengairahkan bahkan:
sekali lagi aku menjelma pandir tanpa kesabaran.
Mata itu begitu membebat semua cerita yang ada
mengurung dalam ketiadaan
dengan begitu mudah,
teramat mudah bahkan.
Ya, mereka mati satu-satu
dalam pusaran gilang mata itu
tenggelam dalam tawa bergenderang.
Malam sampai di sini.
Telah sejak tadi.
Mata itu masih membebatku
terlalu ketat bahkan.
Harapan itu masih ada
dalam bayang kesia-siaan panjang:
aku masih pandir tanpa kesabaran,
terlalu pandir bahkan.
Salemba, April 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment