Antara
Alin telah kembali dari toilet. Dia mengempaskan tubuhnya ke samping Linus.“Udah nemuin apa aja di dompetku?” Braun Buffel itu pun berpindah kembali ke tangan Alin.
Linus nyengir. Kecil dan pendek. Dia memang tadi sempat mengintip isi dompet itu, dan dia menemukan semua yang dia duga akan temukan.
“Kenapa tadi hujan ya? Kalau enggak kan aku bisa mengeposkan surat ini.” Alin menimang-nimang surat yang ia keluarkan barusan dari dalam dompetnya.
Linus melirik surat itu. Dia merasa--entah kenapa--Alin ingin ia melihat surat itu. Linus menyambarnya dari tangan gadis itu, yang sama sekali tidak berusaha mempertahankannya. Linus membaca nama dan alamat di muka surat itu tanpa benar-benar menyimaknya. Gambar-gambar hati yang tercetak di situ telah membuat Linus merasa cukup mengerti apa yang ingin disampaikan Alin.
Alin mengambil surat itu dan memasukannya kembali ke dalam dompet. Linus tak benar-benar memperhatikan beberapa lembar foto yang ditunjukkan orang yang pernah sangat menyayanginya itu dari dompetnya. Dia cuma tahu bahwa cowok cepak itu adalah bekas cowoknya, yang gondrong tapi manis itu adalah cowoknya yang lain, dan nama di surat itu adalah cowoknya yang sekarang, yang tinggal di Lombok--atau Bali atau Bandung, Linus tidak terlalu peduli.
Ya, Linus enggak terlalu peduli. Atau mungkin sebenarnya dia enggak mampu peduli lagi. Semua daya pedulinya telah habis terserap oleh banyak hal dalam hidupnya.
“Kok diam?” Suara renyah Alin--yang selalu Linus rasa tak pernah kehilangan kekuatannya untuk menggoda--menyeruak, menerobos gendang telinga kirinya.
Linus menatap gadis itu, yang tengah mengikat rambutnya jadi satu ke belakang, menjadi sekumpulan benang halus berkilat berwarna hitam. Sekali lagi ia tidak bisa menyangkal untuk mengakui bahwa Alin benar-benar teramat manis.
“Kenapa diam?”
Linus tersenyum. Dia tidak suka dengan senyum Alin yang terkembang teramat sangat manis itu. Dia terganggu dengan nada pertanyaan si cantik ini yang bagai menyiratkan satu pengumuman kemenangan sekaligus tantangan untuk melanjutkan perang. Kesombongan terasa kental di situ. Kalimat “Kok diam?” dan senyum yang teramat manis--bahkan terlalu manis--ditambah ketenangan yang begitu menggoda selalu menjadi kombinasi yang paling Linus benci dari Alin. (Alin pun kadang-kadang amat membenci senyum Linus.)
“Kamu mau aku menunjukkan reaksiku setelah kamu menunjukkan surat itu?” Linus membakar sebatang rokoknya lagi.
Penjaga lobi teater itu menunjukkan wajah tidak senangnya ke arah Linus. Tapi, anehnya dia tidak berbuat apa-apa. Beberapa pasangan lain yang tengah menunggu jam pertunjukan juga tampak terganggu oleh asap rokok yang tiba-tiba membuyarkan kesejukan di ruang berpendingin udara itu. Tapi, mereka, sama anehnya dengan penjaga lobi, tidak berbuat apa-apa. Dan Linus sama sekali tidak peduli pada mereka.Alin tidak menjawab. Dia cuma tersenyum. Senyum itu terasa semakin manis bagi Linus. Dan Linus semakin tidak menyukainya.
“Kamu enggak akan melihat reaksiku, sayang. Nobody will, babe. Nobody will,” Linus berbisik halus, menatap mata Alin lekat-lekat sambil tersenyum. Alin sangat tidak menyukai senyum itu. Tapi, dia tetap tersenyum. Semakin manis.
“Mencoba kan enggak salah.” Pandangan Alin terlempar ke luar. Tiba-tiba dia merasa tatapan mata Linus membuatnya sedikit bergetar. Ya, sisa-sisa getaran itu masih ada.
Linus menggaruk hidungnya, yang sebenarnya tak pernah gatal. Voila! Tiba-tiba dia merasa ingin tertawa. Ada sesuatu yang ingin ia lepas. Dia sangat ingin tertawa, seperti saat salah seorang temannya yang mengaku bisa membaca garis tangan mengatakan bahwa Linus memiliki satu kehidupan cinta yang menarik, a very interesting love life.
“Elo termasuk cowok yang sangat setia, Nus,” tandas sang teman dengan begitu yakinnya. Saat itu Linus cuma tertawa.
“But, you certainly have a very interesting love life. Ada dua cinta yang jalan beriringan dalam waktu yang lama, sangat lama, tapi salah satunya enggak akan tercapai. Dan elo akan merasa sangat kehilangan.”
Tawa Linus sedikit surut, hanya sedikit. Dia menatap sang teman, yang kini tengah menekuri garis-garis di tangan kanannya. Tiba-tiba Linus melihat bandana warna-warni di kepala temannya itu. Anting-anting besar menggantung di telinganya. Bola kristal teronggok angkuh di depannya. Dan, teman Linus itu tiba-tiba tampak seperti wanita tua gemuk yang sama sekali tidak cantik. Darn! Linus langsung menarik tangannya.
“Fortune tellers suck!” desis Linus dalam batin.
“Kita nonton apa, Nus?” Suara Alin, yang masih tetap renyah seperti dulu dan beberapa menit lalu, membuyarkan kesunyian di antara mereka berdua. Linus cuma menatap bola mata Alin. Bulu mata itu selalu lentik dan cantik. Selalu terlihat cantik saat Linus mencari makna-makna di sana.
Alin menghindari tatapan itu. Dia sebenarnya tak ingin segalanya menjadi sulit, sesulit ini. “Mau nonton yang mana?” Pandangan Alin beralih ke boks pamer yang berisi jajaran poster. Tidak, dia tak tertarik dengan poster-poster itu. Dia hanya ingin menghindari sesuatu yang menusuk.Linus tersenyum kecil. Alin tidak melihatnya. Keempat film itu sudah Linus tonton semua—jelas bukan bersama Alin. Aha! Satu ide kecil yang jahil terbit di benaknya.
“Let’s see..,” Linus menegakkan punggungnya,”...teman-temanku bilang Deep Impact bagus, tapi I don’t feel like watching any action shit.” Linus menatap poster Deep Impact. Adegan pelukan Jenny sang reporter dengan ayahnya sebelum disapu gelombang laut akibat jatuhnya meteor Beiderman ke bumi membayang jelas di wajahnya. Cinta dan permaafan yang tulus memang tak pernah berhenti memukaunya.
Alin diam. Namun, Linus tidak berani berharap bahwa cuma dia yang sudah menonton keempat film itu. Bukan cuma dia yang sibuk setelah mereka berpisah beberapa bulan yang lalu toh.
Bola mata Linus mengarah ke Wild Things. Alur cerita film yang penuh dengan intrik yang mengejutkan itu kembali bangkit dalam sel-sel otaknya. Intrik! Ya, menyindir gadis manis di sebelahnya ini supaya dia tidak merasa terlalu pintar bagi semua orang rasanya akan sangat menyenangkan.
“Gimana kalau yang ini? Teman-temanku bilang Neve Campbell dan Kevin Beacon main bagus di film ini.”
Alin menatap Linus. Dia mencoba mencari sesuatu di mata Linus. Cinta yang begitu dalam yang pernah dia punya untuk cowok ini membuatnya sangat mengenal Linus. Sementara Linus kian merasa, sekali lagi, bahwa bukan cuma dia yang sudah menonton ini.
*****
Minggu sore. Langit cerah, di sebuah rumah yang tidak terlalu besar tapi tertata sangat rapi sehingga kenyamanan menjadi sesuatu yang sangat lekat di dalamnya. Linus menyelonjorkan kakinya, duduk di lantai, bersandar ke tembok batu di teras mungil di belakang rumah. Dia selalu suka duduk di situ, menatap kebeningan air kolam yang sesekali dibelah tubuh-tubuh oranye, kuning, dan hitam ikan-ikan di dalamnya. Kebeningan memang tak pernah kehilangan pesona. Dia menikmati gerakan tubuh-tubuh ikan itu yang begitu bebas tanpa harus takut terlihat bodoh atau jahat, dua pilihan yang kadang-kadang terikat dalam satu paket tak terpisahkan. Bebas, mereka begitu bebas. Bebas dan jujur. Dan kejujuran adalah salah satu hal yang paling mempesona bagi Linus.
Sesosok berwajah putih keluar dengan baki di tangan. Isinya selalu sama sejak dulu, saat masih ada janji-janji, saat masih ada kebersamaan: secangkir kopi susu yang tidak terlalu manis, segelas orange juice, dan setoples kue kering dengan rasa cokelat atau keju dan taburan wijen di atasnya dan sisipan kacang mete di tengah-tengahnya. (Selera kita memang menjadi simbol yang sangat kuat untuk menunjukkan betapa membosankannya makhluk yang bernama manusia ini.)
“Kenapa suka sekali sih duduk di situ?” Suara lembut itu selalu terdengar sama di telinga Linus. Selalu sama, selalu teduh. “Ikan-ikan itu enggak pernah bikin kamu bosan ya?” Sisil kini telah duduk di hadapannya.Linus tersenyum. Kecil. Matanya masih menatap ikan-ikan itu. Sebagian pikirannya masih tertaut pada hari itu, saat dia bersama Alin. Kilasan-kilasan gambar Wild Things melekati beberapa rongga benaknya.
Beberapa helai angin sedikit mengacak sulur rambut Sisil, hingga sebagian jatuh ke depan kaca mata minus empatnya. Sisil menyibakkan rambutnya ke samping. Linus menyaksikan gerakan halus itu. Ia menatap wajah dan mata lembut itu. Bingkai kaca mata dan kehalusan garis-garis wajah itu begitu komposisional. Itu yang membuat dadanya selalu berdegup aneh. Saat ini pun, sedikit dari hatinya terpesona, seperti dulu.“Kenapa?” Sisil tersenyum. Senyum yang selalu disukai Linus. Senyum yang tak pernah ia benci. Senyum yang maknanya tak pernah membias jadi seribu atau sejuta. Senyum yang senyum.
“Linus menarik napasnya pendek. “Aku kangen....”Sisil makin tersenyum. Linus kian merasa bahwa sangat pantas dia menyukai senyum itu. Jika gadis di hadapannya ini sudah tersenyum, Linus selalu merasa bahwa semua masalah dalam hidupnya tak lebih dari kerikil-kerikil kapas. The healing power of a smile. Wajah itu tampak cantik. Tapi kecantikan itu akan hilang saat ekspresi khawatir dan cemas yang dibayangi kengerian menggayuti, dan biasanya kan diikuti oleh keberatan-keberatan dan saran-saran. Linus benci sekali.
“Semester ini kamu kuliah ‘kan?”
Linus tersenyum.
“Iya, enggak bisa cuti lagi....”“Padat?”
“Delapan belas SKS.”
“Jadwal ‘ngajar?”
“Belum tahu.”
“Kok?”
“Baru besok ada class assignment. Jadwal keluar besok.”
Sisil mengangguk. Tapi, Linus bisa melihat ada sesuatu yang masih ingin diungkapkan wajah halus di depannya itu. Disentuhnya tangan lembut yang tengah mempermainkan jeans Linus itu. Mata bening itu menatapnya. Linus menatap balik.
Linus meluncurkan senyumnya. Satu bentuk pertanyaan tanpa kata.
“Enggak ada apa-apa,” Sisil membetulkan letak anak rambut di dahinya. ”Aku cuma mau tanya satu hal. Apa betul kamu pinjam uang Erin?”
‘Gosh! Erin ceriwis sekali!’ Linus merutuk dalam hati.
“Kamu kok enggak bilang sama aku lagi perlu uang, Nus?”
Linus membuang pandangannya, tersenyum kecil. Tapi tidak lama. Tangan lembut itu membawa kembali pandangannya ke arah mata indah itu. Senyum Linus masih terkembang. Dia ingin menyiratkan bahwa masalah ini terlalu kecil untuk dibicarakan. Tapi, mata lembut itu kini dipenuhi tuntutan
“Aku kan udah pinjam uang sama kamu. Banyak lagi.”
“Iya, tapi ternyata kamu butuh lebih banyak ‘kan? Aku kan masih punya....”
“Ssshh....” Linus meletakkan telunjuknya ke bibir halus Sisil. ”Sori. Lain kali, kalau aku butuh, aku akan pinjam ke kamu.”
Sisil diam sejenak. Linus tahu dia belum selesai.
“Uang itu masih untuk urusan Ipam?”
Linus mengangguk lagi.
“Kapan ibunya dioperasi?”
Linus mengangkat bahunya. Dia benar-benar tak ingin membicarakan hal ini.
“Dia masih butuh uang lebih banyak?”
‘For God sake!’ Linus benar-benar tak suka. Dia diam.
“Aku tahu kamu dan Ipam sangat dekat, tapi kamu kan mesti mengukur kemampuan kamu sendiri, Nus.”
Sore in jadi terasa tidak terlalu cerah buat Linus. Dia semakin ingin diam.
“Selain sama Erin, sama siapa lagi kamu pinjam uang?”
‘God!’ Linus menatap langit-langit teras. Sama siapa lagi? Sama Toton, Niken, Mumu, Dona, Ebot, Vanya, dan Lulu. Juga sama Putri dan Maya. Tapi, rasanya dia akan lebih tertarik untuk membicarakan komposisi kayu di bawah plafon itu. Tapi, tangan lembut itu, sekali lagi, membawa pandangan mereka bertemu lagi.
“Enggak ada lagi. Cuma sama Erin.” Linus menyalakan sebatang rokoknya, menghindari pandangan lembut itu.
“Benar?”
Linus mengangguk. Asap rokok menghambur ke udara dari sela-sela bibirnya yang mulai menghitam.
Sisil mengibaskan tangannya. “Ngerokok dan ngopimu itu serem lho, Nus. Maag kamu enggak akan pernah bisa sembuh deh....”
Linus menjumput hidung bangir cantik itu.
“Harus ada orang mengurus kamu. Kamu harus dikontrol.” Sisil mengelus pipi Linus perlahan.
Linus tertawa kecil. Dia ingat saat hari itu mengantar Alin pulang, dia bertanya, “Kapan kita bisa keluar lagi?”
“Anytime you need me, you can call me.” Alin menjawab ringan.
Jawaban yang sangat ramah buat seorang yang sudah punya pacar baru di Bali--atau Lombok atau Bandung? Ah!
“Kamu butuh pacar ultrasabar yang bisa merhatiin kamu.” Sisil menarik batang rokok yang sudah seperempat terbakar itu dari sela-sela bibir Linus. Batang itu hancur di asbak dalam beberapa detik.
“Aku enggak butuh pacar. Aku butuh bekas pacarku kembali padaku.”
“Bekas pacarmu bukan orang yang ultrasabar. Dia masih takut akan kecewa lagi saat kembali sama kamu....” Sisil menggigit bibirnya. ”Dia masih ingin begini aja dulu, sambil sedikit-sedikit mengumpulkan keberanian.”
Linus menatap wajah Sisil lekat-lekat.
‘Dia selalu berani, Sil, teramat berani bahkan. Dia bahkan terlalu berani dan pintar, meski tak sebaik bekas pacarku yang lain: kamu,’ Linus mendesis dalam hati.
“Tapi bekas pacarmu masih sayang kok sama kamu. Tulus....” Sisil mengusap pipi Linus.
Linus mencoba tersenyum. “Aku percaya....”
Direngkuhnya kepala itu dalam dekapannya.
‘Aku enggak tahu dia masih sayang sama aku atau enggak, Sil. Yang aku tahu adalah aku masih sangat mencintainya, seperti aku masih sangat mencintai kamu,’ sekali lagi batin Linus mendesis.
“You have a very interesting love life, tapi salah satunya enggak akan sampai, dan elo akan merasa sangat kehilangan, Nus....”
Damn! Darn fortune tellers suck!
=======================
Finished on a quiet Thursday,
Finished on a quiet Thursday,
September 3, 98.at 23.17
To the two of you....
No comments:
Post a Comment