Satu Malam Lagi
Kata-kata bertebaran sekali lagi:
kali ini di kusamnya dinding-dinding itu.
Cerita-cerita pun berhamburan sekali lagi,
bersemburat menyalak hingga ke rambut kita,
mungkin sampai rongga dada dan kepala.
Dan makna masih melayang-layang di antara asap rokokku,
binar-binarnya terjarut dalam surai-surai hujan tadi sore.
(sementara mereka bilang hati selalu bersuara paling jujur.)
Kata-kata bertebaran sekali lagi:
dan aku (atau kau juga, perempuan) masih menggapai-gapai
dalam kebekuan yang terasa enggan kucairkan dalam setiap tarikan dada.
(kita memang sangat mencintai ketidakpastian lebih dari kita menyukai apa pun di dunia ini.)
Legenda kepahitan-kepahitan adalah tembang
dalam kesemuan-kesemuan kita yang mulai terasa panjang
membawaku dalam indahnya ketidakpastian-ketidakpastian
(dadaku selalu berdebar menunggu kejutan-kejutan, perempuan.
tikamkan pisaumu itu dalam-dalam ke daging dadaku, dan kan kulepaskan seringai tawaku seperti jutaan depa ke belakang)
[aku menyangkal lagi satu cinta]
Bekasi, April 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment