Wednesday, March 7, 2007

S3

Skopje dan Vey


Cuaca terlihat cerah. Sinar matahari bersinar malu-malu. Bunga-bunga di pinggir jalan melenggak-lenggok di topangan batang lunglai, diterpa angin yang melesat dari keangkuhan mobil yang lewat. Beberapa orang tampak menikmati atmosfer sore ini di bangku-bangku taman, yang tak sepanjang tahun dapat menjelma seindah ini. Beberapa angsa dengan megak dan jumawa meluncur menyayat permukaan air. Tak ada yang mengganggu mereka. Semua damai dan tenang. Permukaan jernih di danau kecil tersebut pun terlihat bak agar-agar bening hijau. Tenang. Sesekali tampak mobil-mobil menggelinding ke arah kebun binatang di Bulevar Ilinden, tak jauh dari stadion sepakbola di pinggir Sungai Varda.

Udara Skopje memang di sekitar pertengahan tahun seperti ini enak dinikmati, terutama oleh orang-orang yang datang dari Asia sepertiku. Mungkin itu alasan Vey memintaku datang ke sini--bukan ke Belgrade, di mana ia berkonferensi—untuk menemuinya (selain alasan utama: menemuiku tanpa diketahui suaminya). Terletak di bagian tengah agak ke utara Masedonia dan dihiasi bukit-bukit dan gunung di bagian utara, Skopje merupakan kota yang cukup indah. Paling tidak, itu kesan yang ditangkap dasar hatiku. (Rasa itu pula yang mengaliri urat dadaku tiap aku akan bertemu Vey).

Hampir satu jam aku menelusuri jalanan. Dari Bulevar Partizan hingga di perempatan Bulevar St. Kiment Ohridskike. Gereja yang menjulang indah dengan kubah di bangunan utamanya—yang aku pikir merupakan salah satu hasil percampuran budaya barat dan Islam—menghentikan langkahku. Tekstur mosaik kaca yang berwarna-warni menyelimuti bagian muka gereja. Mencengangkan. Sudah cukup jauh aku berjalan dari Best Western Hotel Turist di Gjuro Strugar Street 11, tempatku menginap. (Vey yang memilihkan tempat itu untukku.”Permadani dan temboknya berwarna biru. Cocok untuk orang pemarah sepertimu.” Itu yang diucapkannya saat memintaku datang ke kota ini.). Tapi, tak ada lejar terasa. Apalagi, rasa solot atau jengkel seperti saat aku berjalan di Jakarta.

Aku lalu berbelok ke jalan Orce Nikolov, menuju sebuah restoran di pinggir Sungai Varda. Vey sudah memesan tempat di lantai dua. “Kita akan bisa melihat air sungai mengalir seperti pecahan kaca yang bergerak,” begitu katanya saat membujukku supaya menunggunya di restoran saat aku bersikeras ingin menemuinya di hotel saja.

Vey benar. Restoran ini sangat indah. Bangunannya merupakan gedung tua yang megah. Hanya catnya yang tampak baru dan cemerlang. Halaman luas mengelilingi restoran itu. Rumput hijau dan bunga-bunga kecil berwarna kuning pekat terang, merah, dan oranye menghiasi halaman tersebut. Saat melangkah masuk, pandanganku dibenturkan oleh tata ruang dan perlengkapan interior yang modern. Lampu-lampu kristal menggantung di langit-langit ruangan, seperti anggur bening yang tampak fragile.

Kepada resepsionis kukatakan bahwa aku telah memesan tempat atas nama Nurvi Sulaksmono (Sulaksmono adalah nama belakang suami Vey). Resepsionis kurus jangkung itu menggelengkan kepalanya. Matanya yang ramah berbinar dari balik kaca mata bundarnya. Ia mengatakan bahwa nama Nurvi Sulaksmono tak ada di dalam daftar pemesan tempat.

“Could you check it again, please?”

Matanya tampak menyiratkan upaya kerasnya untuk memahami maksudku. Bahasa Inggris bukan sesuatu yang akrab dengan penduduk Masedonia. Bahasa Turki mungkin lebih dimengerti.

Kuulang kalimatku dengan pelafalan yang lebih jelas dan chunking seperti yang selalu kugunakan saat mengajar siswa-siswa tingkat dasar di Jakarta dulu sambil kutunjuk buku tamu hitam di meja tinggi di hadapannya.

Si jangkung tersenyum. Ia memeriksa lagi baris-baris nama dalam bukunya. Terlihat jelas bahwa ia ingin aku menangkap kesan bahwa ia melakukannya dengan serius dan seksama.

“There’s no Nurvi Sulaksmono. Sorry, Sir.” Ia menatapku dengan mimik menyesal, seperti anak anjing yang minta dibelai.

“Are you sure?”

“Yes.”

“How about Vey Sulaksmono?”

“Vey Sulaksmono?” Ia kembali menekuri barisan nama-nama itu. Ya Tuhan. Betapa membosankannya pekerjaan itu, menekuri nama dan melayani orang sambil tersenyum. Aku tak akan pernah bisa melakukannya.

“Aha! There’s Vey, but not Sulaksmono.”

“What do you mean?” Aku tidak mengerti maksudnya.

“We have Vey Rahardhianti, not Sulaksmono!” Si Jangkung mencoba tersenyum lagi.

Ah, Vey.

Kujelaskan pada si jangkung bahwa nama yang ada dalam daftarnya adalah orang yang kumaksud. Entah kenapa ia terlihat lebih lega dari aku. Ramah. Aku lalu diantarnya ke atas. Sebuah meja kaca berbingkai besi kecil hijau berukir dengan rangkaian bunga biru di atasnya tampaknya akan menjadi mejaku. Benar. Aku letakkan bokongku di atas bantalan empuk kursi yang bertipe sama dengan mejanya. Aku hanya memesan air putih pada si jangkung sebelum ia kembali ke depan.

Pandanganku melayang menembus jendela kaca besar di samping posisi dudukku di dekat jendela. Vey benar. Sungai Varda tampak sebening gelas dengan beberapa jembatan melengkung di atasnya. Dipadukan dengan langit Skopje yang sore ini terlihat biru cerah dengan beberapa helai awan yang mengambang, suasana jadi terasa benar-benar mendamaikan. (Atau aku merasa damai karena akan bertemu Vey?) Aku juga bisa melihat pemandangan bukit-bukit hijau dengan cemara menjulang dari jendela di sisi lain restoran. Lagi-lagi aku merasakan rasa yang mendamaikan. Sekilas, pemandangan itu tampak seperti panorama dari Rindu Alam di Puncak. Tujuh tahun lalu aku menikmati pemandangan itu bersama Vey. Ia mengenakan kemeja biru kotak-kotak kesukaanku dan sepatu kanvas putih yang membuat kakinya terlihat seperti kaki kelinci yang bergerak lincah ke sana-ke mari. It’s been a long time. A long time ago! Dulu sekali, sebelum segalanya terasa rumit seperti sekarang.

“Pam....”

Bisikan halus di sisi telinga kanan membuyarkan kontemplasi pendekku. Lengan halus yang telah kukenal benar teksturnya melingkari leherku. “Udah lama?” Bibir hangat itu mengecup pipiku sekilas. Masih sehangat dulu saat pertama kali menyentuhku. Dulu sekali.

Menarik kursi di hadapanku, ia lalu duduk di sebelahku.

“Belum pesan apa-apa?”

Tanpa menunggu jawabanku, ia memanggil pelayan, seorang gadis muda cantik, yang di Jakarta mungkin pantas menjadi seorang model, mendekat. Aku tak begitu peduli apa yang Vey pesan untuk kami. Dengan kemeja beige berbordir, cardigan merah pucat, dan rok hitam, ia tampak mempesona buatku. (Vey selalu tampak mempesona untukku.)

“It feels so good to see you....” Ia telah selesai memesan makanan dengan bahasa setempat, yang terdengar aneh di telingaku, dan si gadis berkaki indah telah berlalu.
Aku hanya tersenyum, tak melepaskan wajahnya dari jilatan pandanganku. Aku rindu padanya.

“I also miss you ....” lengan putih itu kini merangkul ketat tanganku. Lembut helai rambutnya mengusap pipiku dan harumnya menggelitik lubang hidungku.

“Kapan sampai?” Bola matanya menatapku lucu.

“Kemarin.”

“Dari?”

“Turki.”

Mata bulat itu membelalak. “I thought....” Ia lalu menatapku lekat-lekat. Jauh lebih lucu dengan bibir memberangut itu.

“What?”

“Katanya kamu ke Swiss.”

“Udah.”

“Lalu?”

“Lalu ke Turki.”

“Setelah ini, dari Skopje?”

Aku tersenyum. “Kembali ke Indonesia.”

Senyumnya merekah. Cantik. Vey tampak cumil dengan senyum itu. Kembali ia merangkul lenganku.

“Berarti kita bisa lebih lama di sini.”

“Hmm.” Kekecup lagi kepalanya.

Makanan datang. Si Kaki Indah meletakkan beberapa piring dan beberapa gelas di atas meja. Baunya cukup enak, tapi semuanya tampak aneh. Kami lalu mulai makan setelah Si Kaki Indah berlalu. Tak banyak yang kami bicarakan saat makan. Aku memang tak suka bicara saat makan. Vey tahu itu.

“Kamu menginap di mana?” Kubakar sebatang rokok di selipan bibirku.

“Di hotelmu.”

“Kamu booking di sana juga?”

“Nggak.”

“Lalu?”

“Di tempatmu.” Senyumnya terkembang lagi. Benar-benar cumil.

“Nakal....” Aku mendesis di telinganya.

“Kan kamu yang ngajarin.”

“Masak.”

“Iya.”

“Kapan?”

“Dulu, saat aku baru kuliah.”

Aku kembali tersenyum, menghisap rokokku dalam-dalam, entah karena aku memang menikmatinya atau karena Vey kini ada di sampingku. Dan rokok itu memang terasa lebih nikmat dari biasanya. Ah.


***

“Apa yang kau pikirkan?” Vey mengelus daguku. (Aku suka sekali dibelai seperti itu.)

“Kau....”

Kekecup wajah menggemaskannya sekilas. Langit di luar sana tampak lebih menarik dari kamar yang tiba-tiba kurasa sesak ini. Entah kenapa saat bangun tidur tadi aku tiba-tiba merasa ruang elok ini jadi terlalu sempit untuk kita berdua. Dosa memang tak bisa diingkari, semolek apa pun kemasannya

“Kamu jadi lebih perenung dari dulu.”

Jemari halus itu kembali menelusuri perutku. Entah yang keberapa ratus kali sejak kemarin.

“Ingat rumah?”

Pertanyaan yang dibisikkan lembut ke telingaku itu terasa menghunjam. Vey tak bisa menyembunyikan perasaannya. Ia merasa terancam.

Napasnya terhembus. Dia mulai jengkel. Aku rasa dia tengah membanting tubuhnya ke tempat tidur sekarang.

“Untuk apa jauh-jauh ke Skopje kalau kamu ingin mengingatnya?”

Kini dia tak menyembunyikan lagi perasaannya. Sementara langit di luar masih indah. Teramat indah bahkan. Mengingatkanku pada langit Puncak saat senja sudah tua. Sedikit berair dengan awan tipis. Berkesan mendung, tapi tetapi tetap indah. Istriku benci langit Puncak. Istriku? Ah....

Aku berbalik. Vey tampak seperti bidadari tergolek di hamparan harapan-harapan indah. Lingerie-nya seperti tak kuasa menyembunyikan pesona tiap inci keelokannya. Tapi bukan itu yang membuatku ada di Skopje bersamanya.

Kuterkam tubuhnya dan kutelusuri lehernya, seperti yang aku lakukan tadi malam. Matanya terpaku ke jendela, menerobos kaca.

“Kenapa?” Kali ini aku yang berbisik di telinganya.

“Kamu bikin aku cemburu.”

Merajuk. Suka sekali aku saat dia merajuk seperti itu. Bukan marah. Sama sekali lain. Tak akan ada yang menyukai Vey saat dia marah. Tapi, saat ini dia bukan marah. Dia merajuk. Itu selalu menjadi tanda atau pancingan bagiku untuk mulai mencumbunya, memberinya keindahan-keindahan, yang kadang-kadang berupa janji-janji kosong dan kebohongan-kebohongan manis. Tapi dia menyukainya. Dia sangat menikmatinya meski aku yakin dia tahu aku membohonginya. Itukah yang tak bisa dilakukan suaminya, membisikkan kebohongan-kebohongan manis yang semu?

“Jangan pikirkan dia kalau kamu lagi berdua sama aku.” Suaranya mulai terdengar seperti desahan. Jari halusnya mencubit wajahku, yang tengah tenggelam dalam kehalusan dan keharuman leher panjangnya. Cubitan itu sama sekali tidak menyakitkanku.

“Tak ada yang aku pikirkan selain kamu.”

Matanya mulai terpejam.

“Mana mungkin aku sempat memikirkan orang lain saat kamu ada di sini.”
Tubuhnya semakin merapatiku.

“Aku tak akan pernah membiarkan kamu pergi, Vey.”

Tangan halusnya bergerak liar mencengkeram bahuku.

“Aku akan peluk kamu sampai aku tak bisa memeluk lagi.”

Vey mulai mengerang.

Erangan itu berpacu dengan bisikan-bisikan kepalsuanku hingga sinar matahari pagi berikutnya merekah dan berjinjit di bingkai jendela kamar itu. Sungguh. Skopje menjadi kota yang hangat hari itu.

***

Masih terbilang sangat pagi bagiku. Kabut masih melayang-layang melekati mata. Pandanganku rasanya terbalut helaian kapas dingin yang mengambang di udara. Tapi, aku harus mengantar Vey saat ini juga. Ia akan meninggalkan Skopje dengan penerbangan pertama. Aku? Kami tak bisa mengambil risiko yang tak perlu dengan berada dalam satu pesawat yang sama, bukan? Teman suaminya, sepupu istriku, sahabat adik suaminya, bude dari suami kakak istriku,... Terlalu banyak orang yang bisa meluluhlantakkan keindahan-keindahan yang menggeliat, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman kekejaman rutinitas dan takdir yang membosankan.

“Kapan kau temui aku lagi?”

Kali ini dia yang menelusup di leherku.

“Bulan depan aku Venice. Kamu bisa susul aku?”

Kukecup lambut legamnya. Wangi. Aku yakinkan kulit kepalanya bisa merasakan kehangatan napasku. Pelukannya di perutku mengetat.

“Pam?”

Aku diam sejenak.

“Venice? Mau?”

“Jangan bulan depan.”

Pelukannya mengendur.

“Dua minggu lagi aja.”

Pelukannya kini terlepas. Sebentuk senyum merekah di bibir kenyalnya. Bibir itu begitu merekah hingga tak tampak sisa-sisa pagutanku di sana.

“Benar, Pam? Dua minggu lagi?”

“Mmmm.”

“Di mana?”

“Toba. Suka?”

“Asal di sana ada kamu.”

Kurengkuh lagi tubuh indahnya, yang demi Tuhan bukan merupakan alasanku ada di Skopje bersamanya.

“Venice?”

“Kau kan bisa ajak suamimu.”

Dia menenggelamkan kepalanya ke dadaku. “Jangan menjawab seperti itu kalau kau tak mau pergi.”

Aku tersenyum kecil. Aku suka sekali menggodanya dan aku tahu dia pun suka aku goda. Meski kita telah saling menggoda bertahun-tahun, kebosanan tak pernah menyelip sedikit pun. Itu yang tak ada di antara aku dan seorang perempuan yang sangat cantik dan seksi di rumahku. Itu juga yang tak ada di antara Vey dan seorang lelaki di rumahnya. Barangkali.

“Aku sudah merindukan kamu lagi, Pam.” Sekali lagi di mengurungku dengan pelukannya saat taksi yang kami naiki sudah hendak memasuki belokan ke arah airport. Ada yang ingin ditumpahkannya sebelum kita bertemu dua minggu lagi di Toba mungkin. Sementara aku? Semua sudah kutumpahkan selama tiga malam bersamanya. Di film-film mungkin aktor dan aktrisnya sudah akan saling mengucapkan “I love you”. Tapi, Vey dan aku tidak begitu. Kami selalu menemukan kalimat-kalimat yang lebih indah dari kalimat-kalimat tumpul dan mati seperti itu.
“Muka jelekmu pasti akan ada di kepalaku sampai dua minggu ke depan.” Dia menggesekkan hidungnya ke daguku.

Kurapatkan tubuhnya ke diriku. Aku tak perlu bicara apa-apa lagi. Dia tahu. Dia pasti tahu. Aku bahkan tak perlu mengucapkan apa pun saat dia memelukku untuk kali terakhir sebelum berjalan menuju pesawat.

***

Langit Jakarta memerah. Selalu begini. Macet di mana-mana, di barat, selatan, tengah,....Menjengkelkan! Ataukah bukan kota ini yang menjengkelkanku. Jelas iya! Kota ini dengan segala isinya adalah manifestasi rutinitas yang membosankan untukku. Takdir yang membosankan. Takdir yang menyeretku memasuki sebuah rumah dengan seorang perempuan yang berwajah elok dan bertubuh molek tapi membosankan. Rumahku. Takdir yang takdir, yang membelenggu, yang memunculkan kebosanan yang memukul-mukul kepalaku dari pagi hingga malam selama...dua minggu ke depan, sebelum aku menemui Vey di Toba.

Ah, Vey. Aku sudah merindukanmu lagi.

******

Palmerah, sepanjang 2004





















S2

Surat Bulan Hijau

Keras pintu diketuk. Jam berapa ini? Sial! Masih subuh. Sinar matahari belum lagi menjilat kaca jendela kamarku.

Dok! Dok! Dok!

Semakin keras orang sialan yang tak tahu diri itu menggedor pintu rumahku. Berat rasanya kepalaku saat kupaksa meninggalkan bantal hangat di tempatku. Sempat tersaruk-saruk beberapa kali saat keluar dari kamar, di depan kamar mandi, dan saat melintas di ruang tamu, aku akhirnya sampai di pintu.

Dok! Dok! Dok!
Dok! Dok! Dok!

Kesadaranku tercambuk. Kubuka pintu dengan cepat. Teramat cepat buat orang sepertiku, yang memiliki jantung dan paru-paru yang dikarati nikotin dan tar.
Tak ada siapa-siapa. Tak ada siapa-siapa? Ya, tak ada siapa-siapa! Gila! Mana mungkin ada orang yang bisa langsung menghilang dari pintuku dalam hitungan detik seperti itu. Mustahil. Mustahil!

Kakiku menginjak sesuatu saat menjejak keset di muka pintu. Di atas keset berwarna biru yang bertuliskan “welcome” (tulisan yang ada di semua keset di rumah mana pun, yang membuatku makin yakin bahwa manusia, termasuk aku, adalah makhluk yang sangat membosankan dan steril dari imajinasi) itu kulihat sehelai amplop tipis. Amplop yang dapat kita temui di warung dan toko mana pun di dunia. Ukurannya standar dan seragam. Bentuknya pun persis sama. Motifnya pun jelas-jelas merupakan hasil mesin penumpul kreasi.

Kujumput amplop itu, kuperkosa dan kukeluarkan isinya. Sehelai kertas putih, yang lagi-lagi bisa kutemukan di toko mana pun, berisi beberapa baris tulisan, tang diketik menggunakan mesin tik yang juga bisa kutemui di toko mana pun di bumi ini.

“Jangan pernah menantang angin dan matahari. Matahari hijau bisa menjadi sangat hangat dan menyenangkan, sedangkan angin bisa menjadi sangat semilir dan menyejukkan.. Jangan buat mereka panas mendidih atau mengamuk berputar-putar. Percaya jugalah, teman, bahwa bulan kita memang biru. Terima apa yang ada. Ikuti mau mereka. Ini toh bukan surga....”

Apa ini? Puisi? Pepatah? Ujar-ujar? Nasihat? Tampaknya iya. Ini nasihat. Siapa pula orang jenius yang rela mengetuk pintuku di pagi pekat seperti ini, menggedor pintuku seperti buldozer, dan memberikan baris-baris nasihat bodoh ini?
Gila! Aku harus kehilangan tidur nikmatku hanya untuk diberi nasihat. Sialan!

***

Dok! Dok! Dok!

Aku tiba-tiba terduduk. Tidurku lenyap. Pandanganku kabur. Aku rasanya tak percaya pada pendengaranku.

Dok! Dok! Dok!

Gila! telingaku tak bohong. Pintu itu digedor lagi! Kunyuk! Pasti orang yang kemarin. Pasti si jenius itu. Tanpa tersaruk-saruk lagi, aku berkelebat menuju pintu. Luar biasa! Hanya dalam hitungan sekon—yang kata beberapa ahli lebih cepat dari detik---aku sampai di sana dan membuka lembar kokoh papan kayu mahoni itu. Lagi, tak ada siapa-siapa. Tak ada? Ya, Tak ada!

Selayaknya makhluk membosankan lain, aku otomatis menukikkan pandangan ke keset, di mana kemarin selembar surat diletakkan oleh si jenius. Aha! Surat lagi!

Kuhenyakkan bokongku di sofa tuaku—yang kata pacarku merupakan asbak terbesar di dunia—dengan tak sabar. Kali ini amplop itu kuperkosa lebih ganas. Kucabik-cabik menjadi kepingan-kepingan putih yang langsung teronggok di atas meja.

Surat lagi. Dari si bedebah jenius itu lagi tampaknya. Beberapa baris lagi.

“Jangan coba alirkan air ke tempat yang lebih tinggi. Bukan begitu air menjalani takdirnya. Jangan coba buat bulan lebih terang dari matahari. Jangan pula katakan bahwa bulan itu putih dan matahari itu kuning. Bukan begitu takdirnya. Garib sekali jika bulan menang terang atas matahari. Biarkan air terus di bawah dan bulan tetap redup. Sudah seharusnya mereka begitu.”

Bah! Petuah lagi. Malaikat pemberi nasihatkah dia? Tak punya pekerjaan lainkah si monyet ini selain memberi nasihat-nasihat tak perlu di pagi buta?

Kali ini aku tak tidur lagi. Keanehan si gila ini sontak menghapus kantukku. Sambil menghirup kopi kental dan membiarkan tar menghangatkan aliran darahku, kupandangi surat itu sekali lagi. Semua terlihat biasa dan normal. Tak ada salah eja atau kesalahan penggunaan tanda baca. Kertasnya pun biasa. Tak ada yang istimewa seperti kop, tanda tangan, logo, atau watermark. Semua biasa. Datar. Membosankan. Sama sekali tak mencerminkan pergolakan. Tenang. Datar. Statis.

Ah, gila!

***

Si jenius keparat itu benar-benar menjengkelkan. Bukan hanya di pagi pekat dia datang. Di siang hari pun surat-surat itu datang. Bahkan begitu juga di sore hari. Lama-lama, surat-surat datang di antara pagi dan siang juga, di antara siang dan sore, di antara sore, dan malam, dan di antara malam dan pagi pula. Nasihat-nasihat sialan itu selalu ada di keset depan pintuku tiap kali aku membuka pintu. Sepuluh kali aku buka pintu itu, sepuluh surat mencolok mataku. Seribu kali kubuka pintu, seribu pula surat yang menyerangku.

“Kau benar-benar bergajul. Kau pertanyakan alir angin dan air. Kau pikirkan pula gumpalan awan-awan di langit. Apa yang ada di kepala kecilmu? Tak bisakah kau jalani takdirmu seperti manusia lain?”

Dia mulai menyebutku “bergajul”. Di surat lain dia panggil aku “berandal” dan “gembel”! Kurang ajar!

Di hari lain:

“Hai bedebah. Kau benar-benar berpikiran gabuk dan majal. Kau tak sadari betapa garib alir pikiranmu. Kau sok tahu. Angin ya tetap akan mengalir begitu dan matahari akan tetap seterang itu saat bulan seredup itu. Jangan kau harap semua seimbang sempurna. INI DUNIA, BUKAN SURGA! Ingat juga monyong: langit kita kuning!”

Bah! Dia mulai menghina. Keparat penasihat dan pemberi ujar-ujar pengecut ini telah menghinaku. Pertama dia membujuk. Tak mempan, dia kini menghina. Apa yang akan dilakukannya nanti berikutnya?

“Anjing buduk! Tak kau hentikan pikiranmu, akan ku pecahkan kepalamu hingga tubuh ringkihmu tergelintang dikerumuni cacing. Kami mulai muak dengan pikiranmu yang kerap mengempar, mengemol ketenangan takdir. Ke mana pun kau melangkah, kau harus mulai berhati-hati, keparat!”

Aha! Dia mulai mengancam. Kami? Dia menyebut kami? Banyak mereka rupanya. Bukan satu yang mengirim petuah dan ancaman keparat ini. Banyak rupanya. Setan alas! Seberapa banyak mereka? Aku tak peduli! Seribu orang pun akan kulibas!


Kian lama, surat-surat itu tak hanya kutemui di atas keset di depan pintuku. Saat aku di kamar mandi, ketika aku menunggu bus di halte, waktu aku memasuki selasar pasar hiper, saat aku antre di apotek...pokoknya di mana-mana lipatan amplop surat yang menghujatku selalu kutemui. Keparat! Seisi kota ini telah bersekongkol mengutuk pikiranku. Mungkin bahkan seisi negara ini. Tidak, mungkin seisi dunia!


***

Angin mengalir lambat. Daun-daun bergoyang manja di ranting-ranting yang tampak kokoh coklat gemilap. Permukaan danau sangat tenang, bening seperti kristal kelas satu.

Aku sedang berduaan dengan wanitaku. Sudah lama kami tak berduaan seperti ini. Kesibukan kota barbar yang modern telah merampok waktu kami dan memperkosa momen-momen kemanusiaan kami. Di pondok di tepi danau ini kami berharap dapat me-recharge kemanusiaan itu.

Telah puluhan kali ia tenggelam dalam pelukanku. Telah ribuan kecupan kuhujankan padanya sejak kita tiba di sini. Dia seperti tak pernah berhenti menagih cumbuan-cumbuanku, seperti saat ini. Ia sudah menenggelamkan tubuh indahnya di pangkuanku.

“Alferro-ku sayang....” Kemanjaannya yang terbungkus kelembutan ujung jemari dan bibirnya mengusap leher dan daguku.“Kapan kau akan menikahiku?”

Jemarinya mulai menggelitiki telingaku.

“Secepatnya sayang. Secepatnya.”

“Benar?” Dia menatapku dengan mata mungil berbinarnya. Mata itu tampak hijau menyejukkan. Dia memang cahaya hidupku. Ribuan orang boleh mengutukku. Selama aku memiliki wanita ini, aku akan baik-baik saja.

“Tapi....” Pandangannya terlempar ke tengah danau. Kegalauan menyelimuti keputihan kecantikannya. Matanya diempohi kerisauan yang keruh. Ah....

Kurengkuh lagi pinggangnya dan kutubrukkan pandangannya pada tatapanku.

“ Apa yang bisa membuatmu galau saat aku ada di sini, di sampingmu?”

Ia tidak menjawab. Pandangannya terlempar lagi. Kali ini ke arah gundukan tanah berumput di tepi danau.

“Aku ingin memiliki hidup yang normal, Alferro.” Kalimat itu meluncur setelah kubiarkan ia tenggelam dalam keheningan beberapa saat.

Normal? Aku tak mengerti.

“Aku ingin kau mengatakan padaku sekarang bahwa langit itu kuning, bulan itu biru, dan matahari itu hijau. Aku ingin kau biarkan air mengalir ke bawah dan bulan lebih redup dari matahari. Aku ingin....”

Ucapannya terhenti karena aku kini telah berdiri, menghenyakkan tubuhnya di kursi. Aku tak percaya apa yang kudengar.

“Dengar, Alferro sayang...Mereka benar. Langit kita ini kuning, dan memang sudah seharusnya begitu.”

Apa?!

“Sudah seperti itu matahari, bulan, air, dan angin sejak zaman kakekku dan kakekmu.”

Hah?!

“Sibukkan dirimu dengan mencintaiku. Tak perlu kau kutuki ini semua. Aku tak mau aku, kau, dan anak-anak kita dibenci banyak orang. “

HAH!!

Gila! Ini gila! Ini benar-benar sinting. Permata jiwaku....dia adalah mereka? Ah, sinting. Aku tak dapat berpikir lagi. Dadaku tiba-tiba tertohok. Terpukul. Matahari tiba-tiba menjadi hijau dan langit menjadi kuning. Aku tak dapat berpikir lagi. Sesak. Semua sesak. Udara tiba-tiba menghilang. Aku sesak.

GILA!

*****

Jakarta, Juli 1997






P24

Debu di Cikarang

Telah kubiarkan kau merengkuhku perlahan-lahan:
kau tahu kau mesti berhati-hati dengan keakuanku.
Lalu kubiarkan kau memasuki nadi dan kepala:
kau mulai berpikir bahwa darah ini milikmu.

Lalu kita menahbiskan diri dalam kebohongan-kebohongan
biru menggantung di tiap desah yang kita selalu semai
di jalanan panjang itu
di bawah temaram lampu coffee shop itu
dan di tempat lain di mana kau melenguh dengan keras

kerap kamu minta aku mengingkari takdir
selalu kau seret aku menjauhi alir darah dan degup jantung
torehkan tanda-tanda di kepala, dada, leher, dan sekujur tubuh
hingga kau desahkan satu teriakkan di lubang telinga:

-Kau harus jadi milikku....



Cikarang, Palmerah, Bogor, Pd. Indah
April 2006

P24

Tenggelamnya Satu Kepala

tenggelam lagi
kepala itu
pada nanah-darah ribuan
depa di belakang:
nyinyir amis sepikan malamnya


tenggelam lagi
kepala itu
pada diamnya ribuan
depa di belakang:
ia diam dalam tikaman-tikaman

tenggelam lagi kepala itu:
ia sendirian.
Dan ia tahu:
selalu sendirian


Palmerah, Sept. 5, 2006

P23

Reborn

Tak ada yang menantang angin
dan meninju badai kali ini.
Tak ada yang mengacungkan gelegak kemarahan
pada langit yang tiba-tiba hitam.
Dia tak puja lagi binar keangkuhan di mata membaranya,
tak digenggamnya lagi pongah itu dalam batin tipisnya.


Angin kini mengalir,
dan belum pernah begitu sebelumnya.
Menjalari dahan-dahan putih di ujung pagi,
dan sungguh belum pernah begitu sebelumnya.
Menghinggapi jendela-jendela dan berbisik perlahan,
dan Yang Maha Sayang tahu belum pernah begitu sebelumnya.

Lelaki kecil itu terkulai,
dalam belaian cumbu perih di dadanya,
yang menjalari setiap urat batin otot hati,
kini mengeras membatu membesi.
Cumbu perih luka belai kelelakiannya:
satu lelaki terlahir kembali.



Palmerah
June 30, 06

P22

Dingin

Diam itu begitu dingin
Menelusup dalam rongga jantung
Merobek tiap urat rasa:
Aku tak mau merutuki angin putih tadi malam, perempuan.


Diam itu begitu dingin
Tanganku menggantung dalam keakuan
Yang kerap menusuk semua hati:
Aku benar-benar tak mau merutuki angin putih ini.

Palmerah
Jumat, 2 Juni 2006
Ps: After watching those codes....

P21

Standing as I Was Told

Standing
pretending to be strong am I
in this dark thick cyclone?


(you told me to stay here to rise the belief, woman)

Standing
these eyes filled with dust and fire
in this dark thick cyclone:
do you see my legs shaking holding
the black past?

(you told me to, woman)

As fools passed by,
evils left,
I choose to be surrounded by this pains.

(I do as I was told by you, woman)

Standing
this twister rolled me in this
agony,
anguish,
infliction.
Blood is streming
wetting this black chest of mine:
I then ejaculated,
floating to that white hope:
I am now a man.

(I can't stand now no longer, woman. The legs are gone. But I stay here as I was told by you.
Am I a man yet?)



Palmerah
May 1, 2006

P20


Persist


Even this pouring rain
to weak to stop me longing,
This burning of the sun
is just another bite for me.

And the shining knife you stab me with
has failed to stop this obstinate affection.
You don't cease the stab
as I receive each slowly in silence:
I'll wait forever for you to open that soul.

(This pouring rain begins to torture me, woman,
as I love in silence)


Palmerah
May 1, 2006

P19


Kata-Kata Itu


Setiap putaran membawa bayang
tiap ketuk embuskan satu imaji
baru
berganti
merah-biru
hitam-putih
abu-abu.
Warna terus hilang-pergi
berlalu dalam layang angin di beranda depan
yang sarat keraguan
dibebati keinginan putih
yang kerap terasa bodoh.

Terlalu banyak kata-kata, perempuan
kau
mereka
kau-mereka
aku tetap dalam pusaran ini.
Terlalu banyak kata-kata
di antara sentuhan-sentuhan hening
pada jiwa
pada bening malam.
Kata-kata terlalu banyak, perempuan.
Dan terlalu sering kau bilang
semua ini sia-sia.


Palmerah, 6 Mei 2006

P18

Menari Aku?

Aku akan menari lagi
dalam satu ketukan yang dulu kita lakukan,
anak-anak kegelapan.
Aku akan berhenti tak menari lagi.


Aku akan berteriak lagi
dengan kelantangan pemecah mayapada dan surga-surga
menerobos telinga-telinga penguasa
mengoyak dada-dada pemerkosa.
Aku akan berteriak lagi.


Biarkan aku menari dan berteriak.
Biarkan terguncang nirwana
Biarkan segala kesemuan
tersungkur dalam kehitamannya
Biarkan dewa-dewa itu mencengkeram rambutnya
dalam kecemasan panjang
dalam-malam yang kini berani melawan.


Aku ingin menari lagi.
Aku ingin menari lagi?
Aku hanya begitu lelah.



Palmerah, 6 Mei 2006

P17


Lament untuk Federico


Mereka jejalkan peluru-peluru
berkali-kali
ke belakang kepalamu, Federico
tapi kau terus dendangkan lament itu
pada dunia.

Kau selalu menari begitu gemulai Federico
dalam gairah yang membakar
kecantikan-kemolekan wanita-wanitamu
sebelum peluru menghentikan tarian penamu di malam-malam
yang sepi dan kelam.

Ceritakan lagi bagaimana matador itu terluka.
Kisahkan lagi kemarahan sang banteng dalam takdirnya, Federico.
Sulut keberanianku.
Bakar kelelakianku, Federico!
Dendangkan lagi lament itu!
di sisi peraduanku,
yang telah lama menjadi begitu manis dan teduh.
Teruslah menari, Federico.
Bikin aku tersipu dengan romansa-romansa.

(Salah satu dari mereka kerap
menikamku belakangan ini, Federico)


A stab after another....

May 2006

P16

Perjalanan

Terus merangkak, terkasih
dalam kegelapan tak berujung ini
di antara ujung-ujung duri
yang menikam daging tubuh
yang menyayat.


Terus merangkak, yang terkasih
Aku akan teruskan perjalanan ini
dengan tulang lutut hingga tumit
untai darah nanah di tiap jejak
bangkai jantung di celana
dan kematian beberapa depa di depan.


Terus merangkak, terkasih
Jelang kematianku di depan sana dengan senyum
di jiwamu.



Wednesday, May 10, 2006

P15

Semara Sepi Bulan Padang


Dalam kelam yang begitu pekat, kuhirup satu-satu kewangianmu. Dan kuraba kesejatian keinginan ini dalam sunyi yang begitu dingin menusuk. Aku mau ini menjadi rahasia.

(Bunga itu terus bergoyang, dan aku terus menatap dalam gelap meradang yang pekat, menusuki rongga dada perlahan-lahan. Amat perlahan-lahan.)

Dalam kelam pekat yang mulai gulita, kurasakan kesejatian menggumpal: kuingin kau tangkup aku dalam posesimu, yang angkuh sekalipun. Rantai aku dengan pesona itu sesukamu, rembulan padang. Taklukkan aku di ujung kakimu.

(Bunga itu kini menari, dan aku terus menatap dalam kepekatan panjang hingga di perut malam. Rongga dadaku kian tersayat perlahan-lahan. Terlalu perlahan.)

Kau kini tahu perlawanan itu telah terhenti.

Maret-April 2006

P14


Satu Pengakuan


Aku hendak membuat pengakuan
tentang indah kegundahan
dan culasnya embun-embun berhamparan
serta degilnya seringai bulan
pun titik-titik yang tercurah berlelehan.

Tidak, bukan itu pengakuanku.

Aku hendak mengakui
malam ini begitu terasa pagi
kepekatan kelamnya mengental basi
gelapnya kini tak pernah pasti.

Ah, tidak, itu bukan yang hendak kuakui.

(Kau masih menatap dengan mata indahmu yang penuh cerita duka, senyummu benar-benarserupai tawa. Telah kau tarik lagi tirai itu, gadis?)

Tidak, kini kuakui tak ada yang kuakui.


Centrum of Arrogance, Early April 2006

P13


Requim


Dia selalu berteriak lantang, lelaki itu, menentang siang dengan jiwa terbentang. Alvero Si Mata Nyalang, mereka mengingatnya. Jiwa degil yang jalang berlidah gadamala. Api selalu menyemburat dari mata dan sela-sela bibir.

Dalam pusaran angin dia hidup, lelaki itu, melarutkan hati batu-gelagar: Alvero Si Jaduk Taufan, mereka bergidik mengingatnya.

(Nama-nama berlalu, wajah-wajah lewat beriring, tawa-tawa mengalir bergantian, di antara desah dan lenguh.)

Alvero Si Mata Nyalang yang tapis terkulai di sudut-sudut tanya, dikurung ribuan syak dan praduga: keberanian luruh satu-satu, bertakung di ujung jari-jari.
Alvero Si Mata Nyalang yang sembada daya, bersimpuh di hadapan satu nama dan lukisan lepasnya tawa: kejadukan telah lama tertepis dalam kesunyian, rosok dalam kesejatian semara.

(Nama-nama berlalu, wajah-wajah lewat beriring, tawa-tawa mengalir bergantian, di antara desah dan lenguh. Hanya berlalu. Julurkan tanganmu, perempuan. Dia ingin tahu pisau apa yang kau siap tikamkan di situ, jika ada.)


Jakarta, April 2006


Angin di luar masih meronta-ronta.

P12

Tumbuh Kukuh

Merayap ia dalam gelap:
hanya ingin tahu apakah ada bunga di sana.
Masih adakah bunga itu,
yang selalu diriwayatkan dalam cerita-cerita panjang?
Masih di sanakah?
Dan ia, lelaki itu, terus merayap.

(Barisan sosok dan nama pupus.)

Terus merayap ia dalam gelap:
terus ingin tahu apakah bunga itu di sana?
Semerbak menggiringnya ke pusaran kegilaan.
Masihkah di sana?
Mungkinkah ia masih di sana?
Dan ia, ya, lelaki itu, terus merayap.
Hampar onak menanti di depan sana.
Dia tahu.

(Barisan sosok dan nama kian pupus. Tanpa bekas kali ini.)

Luka-luka menjelang
(dan kau masih ingat bukan?)
perih-perih itu siap meradang
di antara kesia-siaan dan kekosongan panjang.
Tapi lelaki itu terus merayap
(dan kau masih ingat manisnya bukan?)


Long warm travel, April 2006

P11

Etimologi Kebohongan


Tak henti-henti kau minta aku berdendang
tentang kemanisan-kemanisan yang sebenarnya hanya ada di kepalamu.
Dan tak henti-henti kau memintanya.

Tiap kali kita menjadi begitu lelah
dengan peluh membanjir di sela-sela kesemuan,
tak henti kau meminta aku mengulang mantra-mantra itu:
yang membuat matamu terpejam dalam kuasa kepuasan.

(Ada kala kularutkan kedegilan dalam jingga kelana
angin di pusat malam. Satu nama muncul berulang,
mengalirkan tuba hingga ke tulang. Sesemburat tawa lepas
tanpa aku berani raba. Tapi kau tak pernah tahu. Hanya ada satu
nama yang selalu mengusik kuasa kepuasanmu.)

Kita begitu lelah, seperti biasa.
Kau minta lagi tembang itu, seperti biasa.
Kau tagih lagi candu itu bagi jiwamu, seperti biasa.
Tapi kali ini telah begitu menjingga.


Maret-April, 2006
Cikarang, Bekasi. Pd. Labu, Salemba

P10


Semara Jingga

Dia perlahan menggeliat lagi, dan ini bukan yang pertama. Telah seribu-ribu dia mengendap-endap seperti ini.

Dia perlahan menggeliat lagi dan jelas bukan pertama. Seribu-ribu intai telah ditenggelamkannya dalam endapan tanya di ujung hening.

(Langit terbuka,
angin meronta-ronta,
gelap dan kelam menggurita,
dingin menikam dalam)

Dia semakin menggeliat, tidak perlahan-lahan, dia jelas tak mau perlahan lagi. Dia terus menggeliat. Meliukkan angin, taifun dalam ronga dada

(Langit terbuka,
angin meronta-ronta,
gelap dan kelam menggurita,
dingin menikam dalam)


Jakarta, April 2006

P9

Aku, Dia, dan Sore yang Panjang II


Jarum itu terus merayap
pada harapan dan kesia-siaan
seperti sebelumnya

Narasi berjajar
dalam selayang asap
yang buram
tidak muram
hingga malam.

Jarum itu terus merayap
masih pada harapan dan kesia-siaan
masih seperti sebelumnya
semakin panjang dan mengairahkan bahkan:
sekali lagi aku menjelma pandir tanpa kesabaran.
Mata itu begitu membebat semua cerita yang ada
mengurung dalam ketiadaan
dengan begitu mudah,
teramat mudah bahkan.
Ya, mereka mati satu-satu
dalam pusaran gilang mata itu
tenggelam dalam tawa bergenderang.

Malam sampai di sini.
Telah sejak tadi.
Mata itu masih membebatku
terlalu ketat bahkan.

Harapan itu masih ada
dalam bayang kesia-siaan panjang:
aku masih pandir tanpa kesabaran,
terlalu pandir bahkan.


Salemba, April 2006

P8

Satu Malam Lagi

Kata-kata bertebaran sekali lagi:
kali ini di kusamnya dinding-dinding itu.
Cerita-cerita pun berhamburan sekali lagi,
bersemburat menyalak hingga ke rambut kita,
mungkin sampai rongga dada dan kepala.
Dan makna masih melayang-layang di antara asap rokokku,
binar-binarnya terjarut dalam surai-surai hujan tadi sore.
(sementara mereka bilang hati selalu bersuara paling jujur.)


Kata-kata bertebaran sekali lagi:
dan aku (atau kau juga, perempuan) masih menggapai-gapai
dalam kebekuan yang terasa enggan kucairkan dalam setiap tarikan dada.
(kita memang sangat mencintai ketidakpastian lebih dari kita menyukai apa pun di dunia ini.)


Legenda kepahitan-kepahitan adalah tembang
dalam kesemuan-kesemuan kita yang mulai terasa panjang
membawaku dalam indahnya ketidakpastian-ketidakpastian
(dadaku selalu berdebar menunggu kejutan-kejutan, perempuan.
tikamkan pisaumu itu dalam-dalam ke daging dadaku, dan kan kulepaskan seringai tawaku seperti jutaan depa ke belakang)


[aku menyangkal lagi satu cinta]


Bekasi, April 2006

P7

Bongkah Putihku: Si Begal


Kudatangi kau, perempuan
kutawarkan bongkah-bongkah putih ini
dari tangan-tangan begalku
--lalu kita tenggelam dalam suara-suara di rongga dada.


Gumpal gelap makin terpintal
sebelum rabik di tatap bola beningmu
rabut dalam genggamanmu
hingga berabuk di tapak kakimu:
kuserahkan akhir cerita pada ujung lidah
dan denyut hatimu, perempuan.


Kudatangi kau sebagai begal
saat mereka merutukiku dalam mantra-mantra panjang
pengusir setan.
Kilau-kilau putih gumpal
yang kubakikan di tanganmu
menjelma angin di ujung lingkar cangkir kopiku:
kesia-siaan yang begitu niscaya
bagi mereka.
Kedegilan seorang begal tetap membayang


Dan kuserahkan semua akhir pada denyut-denyut terkecilmu,
perempuan!



A serene night
April 2006

P6

Penyerahan

Kubawa dada terbuka ini
pada malam
yang digayuti kesejatian.

Kubawa lagi dada terbuka ini
pada genggam dayamu
malam itu:aku ingin tersenyum dalam matiku.

Salemba, April 18, 2006

P5

A New Start

In a twisting whirlwind
you place me
at one end of that dark alley:
will there be any end for the agony, soul mate?
When those flashes blinded me,
I told Him to choose the path forthese tired feet.

In the twisting whirlwind
I am still
at one end of that dark alley
I refuse to kneel in this great
longin’ pain:
The smile must be displayed on my death.

Salemba, April 18, 2006

P4

Lament around The Walls

This raucous plea cracks
between my soul and ribs,
Lucifer’s mirth has suddenly ceased:
I stop dancing my game by the mercy of your toe, woman.

I’d seen my face on that wall, dear,
printed with long string of blood
and the thickness of darkness of hope:
I’m willing to kneel here
to wait that heart of yours
can feel.

Once these feet conquered those paths
this head crushed the wall with its anger:
the lament keeps on hangin’ near these
bleeding ears.
But I decided to wait silently
in the long route your delicate fingers of heart
have created.

And I feel I can lose no more.
Everything has been given, dear.

Salemba, April 18, 2006

P3

The Night when You Sliced Me

This cold wind will never change my spoilt soul
into the strength of ore.
This cold wind will never put the wound
out of the flame in this baby’s heart of mine.
This cold wind, instead, marks a death of a pride
I am no longer strong?

It’s those words of yours
that sliced me:
“a spoilt self-centered selfish infant trying to dance like a man.”

And now I crawl in this cold cruel night
these used-to-be strong feet are to weak for my empty heart
the scratches all over my vein burn my soul over and over,
but I’ll keep all the agony in this locked bleeding heart:
you’ve sliced me enough tonight, my dearest.


Salemba, April 18, 2006

S1

Antara
Alin telah kembali dari toilet. Dia mengempaskan tubuhnya ke samping Linus.“Udah nemuin apa aja di dompetku?” Braun Buffel itu pun berpindah kembali ke tangan Alin.

Linus nyengir. Kecil dan pendek. Dia memang tadi sempat mengintip isi dompet itu, dan dia menemukan semua yang dia duga akan temukan.

“Kenapa tadi hujan ya? Kalau enggak kan aku bisa mengeposkan surat ini.” Alin menimang-nimang surat yang ia keluarkan barusan dari dalam dompetnya.
Linus melirik surat itu. Dia merasa--entah kenapa--Alin ingin ia melihat surat itu. Linus menyambarnya dari tangan gadis itu, yang sama sekali tidak berusaha mempertahankannya. Linus membaca nama dan alamat di muka surat itu tanpa benar-benar menyimaknya. Gambar-gambar hati yang tercetak di situ telah membuat Linus merasa cukup mengerti apa yang ingin disampaikan Alin.

Alin mengambil surat itu dan memasukannya kembali ke dalam dompet. Linus tak benar-benar memperhatikan beberapa lembar foto yang ditunjukkan orang yang pernah sangat menyayanginya itu dari dompetnya. Dia cuma tahu bahwa cowok cepak itu adalah bekas cowoknya, yang gondrong tapi manis itu adalah cowoknya yang lain, dan nama di surat itu adalah cowoknya yang sekarang, yang tinggal di Lombok--atau Bali atau Bandung, Linus tidak terlalu peduli.

Ya, Linus enggak terlalu peduli. Atau mungkin sebenarnya dia enggak mampu peduli lagi. Semua daya pedulinya telah habis terserap oleh banyak hal dalam hidupnya.
“Kok diam?” Suara renyah Alin--yang selalu Linus rasa tak pernah kehilangan kekuatannya untuk menggoda--menyeruak, menerobos gendang telinga kirinya.

Linus menatap gadis itu, yang tengah mengikat rambutnya jadi satu ke belakang, menjadi sekumpulan benang halus berkilat berwarna hitam. Sekali lagi ia tidak bisa menyangkal untuk mengakui bahwa Alin benar-benar teramat manis.
“Kenapa diam?”

Linus tersenyum. Dia tidak suka dengan senyum Alin yang terkembang teramat sangat manis itu. Dia terganggu dengan nada pertanyaan si cantik ini yang bagai menyiratkan satu pengumuman kemenangan sekaligus tantangan untuk melanjutkan perang. Kesombongan terasa kental di situ. Kalimat “Kok diam?” dan senyum yang teramat manis--bahkan terlalu manis--ditambah ketenangan yang begitu menggoda selalu menjadi kombinasi yang paling Linus benci dari Alin. (Alin pun kadang-kadang amat membenci senyum Linus.)

“Kamu mau aku menunjukkan reaksiku setelah kamu menunjukkan surat itu?” Linus membakar sebatang rokoknya lagi.
Penjaga lobi teater itu menunjukkan wajah tidak senangnya ke arah Linus. Tapi, anehnya dia tidak berbuat apa-apa. Beberapa pasangan lain yang tengah menunggu jam pertunjukan juga tampak terganggu oleh asap rokok yang tiba-tiba membuyarkan kesejukan di ruang berpendingin udara itu. Tapi, mereka, sama anehnya dengan penjaga lobi, tidak berbuat apa-apa. Dan Linus sama sekali tidak peduli pada mereka.Alin tidak menjawab. Dia cuma tersenyum. Senyum itu terasa semakin manis bagi Linus. Dan Linus semakin tidak menyukainya.

“Kamu enggak akan melihat reaksiku, sayang. Nobody will, babe. Nobody will,” Linus berbisik halus, menatap mata Alin lekat-lekat sambil tersenyum. Alin sangat tidak menyukai senyum itu. Tapi, dia tetap tersenyum. Semakin manis.

“Mencoba kan enggak salah.” Pandangan Alin terlempar ke luar. Tiba-tiba dia merasa tatapan mata Linus membuatnya sedikit bergetar. Ya, sisa-sisa getaran itu masih ada.

Linus menggaruk hidungnya, yang sebenarnya tak pernah gatal. Voila! Tiba-tiba dia merasa ingin tertawa. Ada sesuatu yang ingin ia lepas. Dia sangat ingin tertawa, seperti saat salah seorang temannya yang mengaku bisa membaca garis tangan mengatakan bahwa Linus memiliki satu kehidupan cinta yang menarik, a very interesting love life.

“Elo termasuk cowok yang sangat setia, Nus,” tandas sang teman dengan begitu yakinnya. Saat itu Linus cuma tertawa.

“But, you certainly have a very interesting love life. Ada dua cinta yang jalan beriringan dalam waktu yang lama, sangat lama, tapi salah satunya enggak akan tercapai. Dan elo akan merasa sangat kehilangan.”

Tawa Linus sedikit surut, hanya sedikit. Dia menatap sang teman, yang kini tengah menekuri garis-garis di tangan kanannya. Tiba-tiba Linus melihat bandana warna-warni di kepala temannya itu. Anting-anting besar menggantung di telinganya. Bola kristal teronggok angkuh di depannya. Dan, teman Linus itu tiba-tiba tampak seperti wanita tua gemuk yang sama sekali tidak cantik. Darn! Linus langsung menarik tangannya.

“Fortune tellers suck!” desis Linus dalam batin.

“Kita nonton apa, Nus?” Suara Alin, yang masih tetap renyah seperti dulu dan beberapa menit lalu, membuyarkan kesunyian di antara mereka berdua. Linus cuma menatap bola mata Alin. Bulu mata itu selalu lentik dan cantik. Selalu terlihat cantik saat Linus mencari makna-makna di sana.

Alin menghindari tatapan itu. Dia sebenarnya tak ingin segalanya menjadi sulit, sesulit ini. “Mau nonton yang mana?” Pandangan Alin beralih ke boks pamer yang berisi jajaran poster. Tidak, dia tak tertarik dengan poster-poster itu. Dia hanya ingin menghindari sesuatu yang menusuk.Linus tersenyum kecil. Alin tidak melihatnya. Keempat film itu sudah Linus tonton semua—jelas bukan bersama Alin. Aha! Satu ide kecil yang jahil terbit di benaknya.

“Let’s see..,” Linus menegakkan punggungnya,”...teman-temanku bilang Deep Impact bagus, tapi I don’t feel like watching any action shit.” Linus menatap poster Deep Impact. Adegan pelukan Jenny sang reporter dengan ayahnya sebelum disapu gelombang laut akibat jatuhnya meteor Beiderman ke bumi membayang jelas di wajahnya. Cinta dan permaafan yang tulus memang tak pernah berhenti memukaunya.

Alin diam. Namun, Linus tidak berani berharap bahwa cuma dia yang sudah menonton keempat film itu. Bukan cuma dia yang sibuk setelah mereka berpisah beberapa bulan yang lalu toh.
Bola mata Linus mengarah ke Wild Things. Alur cerita film yang penuh dengan intrik yang mengejutkan itu kembali bangkit dalam sel-sel otaknya. Intrik! Ya, menyindir gadis manis di sebelahnya ini supaya dia tidak merasa terlalu pintar bagi semua orang rasanya akan sangat menyenangkan.

“Gimana kalau yang ini? Teman-temanku bilang Neve Campbell dan Kevin Beacon main bagus di film ini.”

Alin menatap Linus. Dia mencoba mencari sesuatu di mata Linus. Cinta yang begitu dalam yang pernah dia punya untuk cowok ini membuatnya sangat mengenal Linus. Sementara Linus kian merasa, sekali lagi, bahwa bukan cuma dia yang sudah menonton ini.

*****
Minggu sore. Langit cerah, di sebuah rumah yang tidak terlalu besar tapi tertata sangat rapi sehingga kenyamanan menjadi sesuatu yang sangat lekat di dalamnya. Linus menyelonjorkan kakinya, duduk di lantai, bersandar ke tembok batu di teras mungil di belakang rumah. Dia selalu suka duduk di situ, menatap kebeningan air kolam yang sesekali dibelah tubuh-tubuh oranye, kuning, dan hitam ikan-ikan di dalamnya. Kebeningan memang tak pernah kehilangan pesona. Dia menikmati gerakan tubuh-tubuh ikan itu yang begitu bebas tanpa harus takut terlihat bodoh atau jahat, dua pilihan yang kadang-kadang terikat dalam satu paket tak terpisahkan. Bebas, mereka begitu bebas. Bebas dan jujur. Dan kejujuran adalah salah satu hal yang paling mempesona bagi Linus.

Sesosok berwajah putih keluar dengan baki di tangan. Isinya selalu sama sejak dulu, saat masih ada janji-janji, saat masih ada kebersamaan: secangkir kopi susu yang tidak terlalu manis, segelas orange juice, dan setoples kue kering dengan rasa cokelat atau keju dan taburan wijen di atasnya dan sisipan kacang mete di tengah-tengahnya. (Selera kita memang menjadi simbol yang sangat kuat untuk menunjukkan betapa membosankannya makhluk yang bernama manusia ini.)

“Kenapa suka sekali sih duduk di situ?” Suara lembut itu selalu terdengar sama di telinga Linus. Selalu sama, selalu teduh. “Ikan-ikan itu enggak pernah bikin kamu bosan ya?” Sisil kini telah duduk di hadapannya.Linus tersenyum. Kecil. Matanya masih menatap ikan-ikan itu. Sebagian pikirannya masih tertaut pada hari itu, saat dia bersama Alin. Kilasan-kilasan gambar Wild Things melekati beberapa rongga benaknya.

Beberapa helai angin sedikit mengacak sulur rambut Sisil, hingga sebagian jatuh ke depan kaca mata minus empatnya. Sisil menyibakkan rambutnya ke samping. Linus menyaksikan gerakan halus itu. Ia menatap wajah dan mata lembut itu. Bingkai kaca mata dan kehalusan garis-garis wajah itu begitu komposisional. Itu yang membuat dadanya selalu berdegup aneh. Saat ini pun, sedikit dari hatinya terpesona, seperti dulu.“Kenapa?” Sisil tersenyum. Senyum yang selalu disukai Linus. Senyum yang tak pernah ia benci. Senyum yang maknanya tak pernah membias jadi seribu atau sejuta. Senyum yang senyum.

“Linus menarik napasnya pendek. “Aku kangen....”Sisil makin tersenyum. Linus kian merasa bahwa sangat pantas dia menyukai senyum itu. Jika gadis di hadapannya ini sudah tersenyum, Linus selalu merasa bahwa semua masalah dalam hidupnya tak lebih dari kerikil-kerikil kapas. The healing power of a smile. Wajah itu tampak cantik. Tapi kecantikan itu akan hilang saat ekspresi khawatir dan cemas yang dibayangi kengerian menggayuti, dan biasanya kan diikuti oleh keberatan-keberatan dan saran-saran. Linus benci sekali.

“Semester ini kamu kuliah ‘kan?”
Linus tersenyum.
“Iya, enggak bisa cuti lagi....”“Padat?”
“Delapan belas SKS.”
“Jadwal ‘ngajar?”
“Belum tahu.”
“Kok?”
“Baru besok ada class assignment. Jadwal keluar besok.”
Sisil mengangguk. Tapi, Linus bisa melihat ada sesuatu yang masih ingin diungkapkan wajah halus di depannya itu. Disentuhnya tangan lembut yang tengah mempermainkan jeans Linus itu. Mata bening itu menatapnya. Linus menatap balik.

Linus meluncurkan senyumnya. Satu bentuk pertanyaan tanpa kata.
“Enggak ada apa-apa,” Sisil membetulkan letak anak rambut di dahinya. ”Aku cuma mau tanya satu hal. Apa betul kamu pinjam uang Erin?”
‘Gosh! Erin ceriwis sekali!’ Linus merutuk dalam hati.
“Kamu kok enggak bilang sama aku lagi perlu uang, Nus?”
Linus membuang pandangannya, tersenyum kecil. Tapi tidak lama. Tangan lembut itu membawa kembali pandangannya ke arah mata indah itu. Senyum Linus masih terkembang. Dia ingin menyiratkan bahwa masalah ini terlalu kecil untuk dibicarakan. Tapi, mata lembut itu kini dipenuhi tuntutan

“Aku kan udah pinjam uang sama kamu. Banyak lagi.”
“Iya, tapi ternyata kamu butuh lebih banyak ‘kan? Aku kan masih punya....”
“Ssshh....” Linus meletakkan telunjuknya ke bibir halus Sisil. ”Sori. Lain kali, kalau aku butuh, aku akan pinjam ke kamu.”

Sisil diam sejenak. Linus tahu dia belum selesai.
“Uang itu masih untuk urusan Ipam?”
Linus mengangguk lagi.
“Kapan ibunya dioperasi?”
Linus mengangkat bahunya. Dia benar-benar tak ingin membicarakan hal ini.
“Dia masih butuh uang lebih banyak?”
‘For God sake!’ Linus benar-benar tak suka. Dia diam.
“Aku tahu kamu dan Ipam sangat dekat, tapi kamu kan mesti mengukur kemampuan kamu sendiri, Nus.”
Sore in jadi terasa tidak terlalu cerah buat Linus. Dia semakin ingin diam.
“Selain sama Erin, sama siapa lagi kamu pinjam uang?”
‘God!’ Linus menatap langit-langit teras. Sama siapa lagi? Sama Toton, Niken, Mumu, Dona, Ebot, Vanya, dan Lulu. Juga sama Putri dan Maya. Tapi, rasanya dia akan lebih tertarik untuk membicarakan komposisi kayu di bawah plafon itu. Tapi, tangan lembut itu, sekali lagi, membawa pandangan mereka bertemu lagi.
“Enggak ada lagi. Cuma sama Erin.” Linus menyalakan sebatang rokoknya, menghindari pandangan lembut itu.
“Benar?”
Linus mengangguk. Asap rokok menghambur ke udara dari sela-sela bibirnya yang mulai menghitam.
Sisil mengibaskan tangannya. “Ngerokok dan ngopimu itu serem lho, Nus. Maag kamu enggak akan pernah bisa sembuh deh....”
Linus menjumput hidung bangir cantik itu.
“Harus ada orang mengurus kamu. Kamu harus dikontrol.” Sisil mengelus pipi Linus perlahan.
Linus tertawa kecil. Dia ingat saat hari itu mengantar Alin pulang, dia bertanya, “Kapan kita bisa keluar lagi?”
“Anytime you need me, you can call me.” Alin menjawab ringan.
Jawaban yang sangat ramah buat seorang yang sudah punya pacar baru di Bali--atau Lombok atau Bandung? Ah!
“Kamu butuh pacar ultrasabar yang bisa merhatiin kamu.” Sisil menarik batang rokok yang sudah seperempat terbakar itu dari sela-sela bibir Linus. Batang itu hancur di asbak dalam beberapa detik.
“Aku enggak butuh pacar. Aku butuh bekas pacarku kembali padaku.”
“Bekas pacarmu bukan orang yang ultrasabar. Dia masih takut akan kecewa lagi saat kembali sama kamu....” Sisil menggigit bibirnya. ”Dia masih ingin begini aja dulu, sambil sedikit-sedikit mengumpulkan keberanian.”
Linus menatap wajah Sisil lekat-lekat.
‘Dia selalu berani, Sil, teramat berani bahkan. Dia bahkan terlalu berani dan pintar, meski tak sebaik bekas pacarku yang lain: kamu,’ Linus mendesis dalam hati.
“Tapi bekas pacarmu masih sayang kok sama kamu. Tulus....” Sisil mengusap pipi Linus.
Linus mencoba tersenyum. “Aku percaya....”
Direngkuhnya kepala itu dalam dekapannya.
‘Aku enggak tahu dia masih sayang sama aku atau enggak, Sil. Yang aku tahu adalah aku masih sangat mencintainya, seperti aku masih sangat mencintai kamu,’ sekali lagi batin Linus mendesis.
“You have a very interesting love life, tapi salah satunya enggak akan sampai, dan elo akan merasa sangat kehilangan, Nus....”
Damn! Darn fortune tellers suck!
=======================
Finished on a quiet Thursday,
September 3, 98.at 23.17

To the two of you....

Wednesday, February 28, 2007

P2

You in Lost

I'm drowning myself in deep silence now
for I lost your voice in the darkness of this alley:
dear you have untuned this night for me.
Those frissons we went trough
are here still,
tingling inch by inch of my dark sorrow:
pain and love share their way again.

I just need you to whisper those misfires
the rustle of those fragrant hair of yours.


Friday, April 21, 2006

P1

Transformasi


Kau ajak aku nikmati belaian lembut semilir ini
yang cuma ada di antara juluran tajam rumpun-rumpun
duri di pinggir jurang.
Perlahan kau gamit lengan gemetarku
tertuntun dalam satu pusaran:
kelelakianku kau lucuti satu-satu
(aku berhenti menyeringai dan
pedang itu telah hilang).

Kau ajak aku nikmati belaian lembut semilir ini
yang menggigilkanku di tiap ujung malam
menjelang pagi
Aku kini benar-benar telanjang.

Kudatangi Dia lalu dengan ketaatan putihku ini
(aku belum pernah merasa begitu lelah
dan gemetar. Kering peluhku di kaki bayangmu, perempuan.
Habis peduliku pada pisaumu itu.)


Salemba
April 24, 2006
While I was waiting for you....