Semara Jingga
Dia perlahan menggeliat lagi, dan ini bukan yang pertama. Telah seribu-ribu dia mengendap-endap seperti ini.
Dia perlahan menggeliat lagi dan jelas bukan pertama. Seribu-ribu intai telah ditenggelamkannya dalam endapan tanya di ujung hening.
(Langit terbuka,
angin meronta-ronta,
gelap dan kelam menggurita,
dingin menikam dalam)
Dia semakin menggeliat, tidak perlahan-lahan, dia jelas tak mau perlahan lagi. Dia terus menggeliat. Meliukkan angin, taifun dalam ronga dada
(Langit terbuka,
angin meronta-ronta,
gelap dan kelam menggurita,
dingin menikam dalam)
Jakarta, April 2006
No comments:
Post a Comment