Wednesday, March 7, 2007

P10


Semara Jingga

Dia perlahan menggeliat lagi, dan ini bukan yang pertama. Telah seribu-ribu dia mengendap-endap seperti ini.

Dia perlahan menggeliat lagi dan jelas bukan pertama. Seribu-ribu intai telah ditenggelamkannya dalam endapan tanya di ujung hening.

(Langit terbuka,
angin meronta-ronta,
gelap dan kelam menggurita,
dingin menikam dalam)

Dia semakin menggeliat, tidak perlahan-lahan, dia jelas tak mau perlahan lagi. Dia terus menggeliat. Meliukkan angin, taifun dalam ronga dada

(Langit terbuka,
angin meronta-ronta,
gelap dan kelam menggurita,
dingin menikam dalam)


Jakarta, April 2006

No comments: