Wednesday, March 7, 2007

S3

Skopje dan Vey


Cuaca terlihat cerah. Sinar matahari bersinar malu-malu. Bunga-bunga di pinggir jalan melenggak-lenggok di topangan batang lunglai, diterpa angin yang melesat dari keangkuhan mobil yang lewat. Beberapa orang tampak menikmati atmosfer sore ini di bangku-bangku taman, yang tak sepanjang tahun dapat menjelma seindah ini. Beberapa angsa dengan megak dan jumawa meluncur menyayat permukaan air. Tak ada yang mengganggu mereka. Semua damai dan tenang. Permukaan jernih di danau kecil tersebut pun terlihat bak agar-agar bening hijau. Tenang. Sesekali tampak mobil-mobil menggelinding ke arah kebun binatang di Bulevar Ilinden, tak jauh dari stadion sepakbola di pinggir Sungai Varda.

Udara Skopje memang di sekitar pertengahan tahun seperti ini enak dinikmati, terutama oleh orang-orang yang datang dari Asia sepertiku. Mungkin itu alasan Vey memintaku datang ke sini--bukan ke Belgrade, di mana ia berkonferensi—untuk menemuinya (selain alasan utama: menemuiku tanpa diketahui suaminya). Terletak di bagian tengah agak ke utara Masedonia dan dihiasi bukit-bukit dan gunung di bagian utara, Skopje merupakan kota yang cukup indah. Paling tidak, itu kesan yang ditangkap dasar hatiku. (Rasa itu pula yang mengaliri urat dadaku tiap aku akan bertemu Vey).

Hampir satu jam aku menelusuri jalanan. Dari Bulevar Partizan hingga di perempatan Bulevar St. Kiment Ohridskike. Gereja yang menjulang indah dengan kubah di bangunan utamanya—yang aku pikir merupakan salah satu hasil percampuran budaya barat dan Islam—menghentikan langkahku. Tekstur mosaik kaca yang berwarna-warni menyelimuti bagian muka gereja. Mencengangkan. Sudah cukup jauh aku berjalan dari Best Western Hotel Turist di Gjuro Strugar Street 11, tempatku menginap. (Vey yang memilihkan tempat itu untukku.”Permadani dan temboknya berwarna biru. Cocok untuk orang pemarah sepertimu.” Itu yang diucapkannya saat memintaku datang ke kota ini.). Tapi, tak ada lejar terasa. Apalagi, rasa solot atau jengkel seperti saat aku berjalan di Jakarta.

Aku lalu berbelok ke jalan Orce Nikolov, menuju sebuah restoran di pinggir Sungai Varda. Vey sudah memesan tempat di lantai dua. “Kita akan bisa melihat air sungai mengalir seperti pecahan kaca yang bergerak,” begitu katanya saat membujukku supaya menunggunya di restoran saat aku bersikeras ingin menemuinya di hotel saja.

Vey benar. Restoran ini sangat indah. Bangunannya merupakan gedung tua yang megah. Hanya catnya yang tampak baru dan cemerlang. Halaman luas mengelilingi restoran itu. Rumput hijau dan bunga-bunga kecil berwarna kuning pekat terang, merah, dan oranye menghiasi halaman tersebut. Saat melangkah masuk, pandanganku dibenturkan oleh tata ruang dan perlengkapan interior yang modern. Lampu-lampu kristal menggantung di langit-langit ruangan, seperti anggur bening yang tampak fragile.

Kepada resepsionis kukatakan bahwa aku telah memesan tempat atas nama Nurvi Sulaksmono (Sulaksmono adalah nama belakang suami Vey). Resepsionis kurus jangkung itu menggelengkan kepalanya. Matanya yang ramah berbinar dari balik kaca mata bundarnya. Ia mengatakan bahwa nama Nurvi Sulaksmono tak ada di dalam daftar pemesan tempat.

“Could you check it again, please?”

Matanya tampak menyiratkan upaya kerasnya untuk memahami maksudku. Bahasa Inggris bukan sesuatu yang akrab dengan penduduk Masedonia. Bahasa Turki mungkin lebih dimengerti.

Kuulang kalimatku dengan pelafalan yang lebih jelas dan chunking seperti yang selalu kugunakan saat mengajar siswa-siswa tingkat dasar di Jakarta dulu sambil kutunjuk buku tamu hitam di meja tinggi di hadapannya.

Si jangkung tersenyum. Ia memeriksa lagi baris-baris nama dalam bukunya. Terlihat jelas bahwa ia ingin aku menangkap kesan bahwa ia melakukannya dengan serius dan seksama.

“There’s no Nurvi Sulaksmono. Sorry, Sir.” Ia menatapku dengan mimik menyesal, seperti anak anjing yang minta dibelai.

“Are you sure?”

“Yes.”

“How about Vey Sulaksmono?”

“Vey Sulaksmono?” Ia kembali menekuri barisan nama-nama itu. Ya Tuhan. Betapa membosankannya pekerjaan itu, menekuri nama dan melayani orang sambil tersenyum. Aku tak akan pernah bisa melakukannya.

“Aha! There’s Vey, but not Sulaksmono.”

“What do you mean?” Aku tidak mengerti maksudnya.

“We have Vey Rahardhianti, not Sulaksmono!” Si Jangkung mencoba tersenyum lagi.

Ah, Vey.

Kujelaskan pada si jangkung bahwa nama yang ada dalam daftarnya adalah orang yang kumaksud. Entah kenapa ia terlihat lebih lega dari aku. Ramah. Aku lalu diantarnya ke atas. Sebuah meja kaca berbingkai besi kecil hijau berukir dengan rangkaian bunga biru di atasnya tampaknya akan menjadi mejaku. Benar. Aku letakkan bokongku di atas bantalan empuk kursi yang bertipe sama dengan mejanya. Aku hanya memesan air putih pada si jangkung sebelum ia kembali ke depan.

Pandanganku melayang menembus jendela kaca besar di samping posisi dudukku di dekat jendela. Vey benar. Sungai Varda tampak sebening gelas dengan beberapa jembatan melengkung di atasnya. Dipadukan dengan langit Skopje yang sore ini terlihat biru cerah dengan beberapa helai awan yang mengambang, suasana jadi terasa benar-benar mendamaikan. (Atau aku merasa damai karena akan bertemu Vey?) Aku juga bisa melihat pemandangan bukit-bukit hijau dengan cemara menjulang dari jendela di sisi lain restoran. Lagi-lagi aku merasakan rasa yang mendamaikan. Sekilas, pemandangan itu tampak seperti panorama dari Rindu Alam di Puncak. Tujuh tahun lalu aku menikmati pemandangan itu bersama Vey. Ia mengenakan kemeja biru kotak-kotak kesukaanku dan sepatu kanvas putih yang membuat kakinya terlihat seperti kaki kelinci yang bergerak lincah ke sana-ke mari. It’s been a long time. A long time ago! Dulu sekali, sebelum segalanya terasa rumit seperti sekarang.

“Pam....”

Bisikan halus di sisi telinga kanan membuyarkan kontemplasi pendekku. Lengan halus yang telah kukenal benar teksturnya melingkari leherku. “Udah lama?” Bibir hangat itu mengecup pipiku sekilas. Masih sehangat dulu saat pertama kali menyentuhku. Dulu sekali.

Menarik kursi di hadapanku, ia lalu duduk di sebelahku.

“Belum pesan apa-apa?”

Tanpa menunggu jawabanku, ia memanggil pelayan, seorang gadis muda cantik, yang di Jakarta mungkin pantas menjadi seorang model, mendekat. Aku tak begitu peduli apa yang Vey pesan untuk kami. Dengan kemeja beige berbordir, cardigan merah pucat, dan rok hitam, ia tampak mempesona buatku. (Vey selalu tampak mempesona untukku.)

“It feels so good to see you....” Ia telah selesai memesan makanan dengan bahasa setempat, yang terdengar aneh di telingaku, dan si gadis berkaki indah telah berlalu.
Aku hanya tersenyum, tak melepaskan wajahnya dari jilatan pandanganku. Aku rindu padanya.

“I also miss you ....” lengan putih itu kini merangkul ketat tanganku. Lembut helai rambutnya mengusap pipiku dan harumnya menggelitik lubang hidungku.

“Kapan sampai?” Bola matanya menatapku lucu.

“Kemarin.”

“Dari?”

“Turki.”

Mata bulat itu membelalak. “I thought....” Ia lalu menatapku lekat-lekat. Jauh lebih lucu dengan bibir memberangut itu.

“What?”

“Katanya kamu ke Swiss.”

“Udah.”

“Lalu?”

“Lalu ke Turki.”

“Setelah ini, dari Skopje?”

Aku tersenyum. “Kembali ke Indonesia.”

Senyumnya merekah. Cantik. Vey tampak cumil dengan senyum itu. Kembali ia merangkul lenganku.

“Berarti kita bisa lebih lama di sini.”

“Hmm.” Kekecup lagi kepalanya.

Makanan datang. Si Kaki Indah meletakkan beberapa piring dan beberapa gelas di atas meja. Baunya cukup enak, tapi semuanya tampak aneh. Kami lalu mulai makan setelah Si Kaki Indah berlalu. Tak banyak yang kami bicarakan saat makan. Aku memang tak suka bicara saat makan. Vey tahu itu.

“Kamu menginap di mana?” Kubakar sebatang rokok di selipan bibirku.

“Di hotelmu.”

“Kamu booking di sana juga?”

“Nggak.”

“Lalu?”

“Di tempatmu.” Senyumnya terkembang lagi. Benar-benar cumil.

“Nakal....” Aku mendesis di telinganya.

“Kan kamu yang ngajarin.”

“Masak.”

“Iya.”

“Kapan?”

“Dulu, saat aku baru kuliah.”

Aku kembali tersenyum, menghisap rokokku dalam-dalam, entah karena aku memang menikmatinya atau karena Vey kini ada di sampingku. Dan rokok itu memang terasa lebih nikmat dari biasanya. Ah.


***

“Apa yang kau pikirkan?” Vey mengelus daguku. (Aku suka sekali dibelai seperti itu.)

“Kau....”

Kekecup wajah menggemaskannya sekilas. Langit di luar sana tampak lebih menarik dari kamar yang tiba-tiba kurasa sesak ini. Entah kenapa saat bangun tidur tadi aku tiba-tiba merasa ruang elok ini jadi terlalu sempit untuk kita berdua. Dosa memang tak bisa diingkari, semolek apa pun kemasannya

“Kamu jadi lebih perenung dari dulu.”

Jemari halus itu kembali menelusuri perutku. Entah yang keberapa ratus kali sejak kemarin.

“Ingat rumah?”

Pertanyaan yang dibisikkan lembut ke telingaku itu terasa menghunjam. Vey tak bisa menyembunyikan perasaannya. Ia merasa terancam.

Napasnya terhembus. Dia mulai jengkel. Aku rasa dia tengah membanting tubuhnya ke tempat tidur sekarang.

“Untuk apa jauh-jauh ke Skopje kalau kamu ingin mengingatnya?”

Kini dia tak menyembunyikan lagi perasaannya. Sementara langit di luar masih indah. Teramat indah bahkan. Mengingatkanku pada langit Puncak saat senja sudah tua. Sedikit berair dengan awan tipis. Berkesan mendung, tapi tetapi tetap indah. Istriku benci langit Puncak. Istriku? Ah....

Aku berbalik. Vey tampak seperti bidadari tergolek di hamparan harapan-harapan indah. Lingerie-nya seperti tak kuasa menyembunyikan pesona tiap inci keelokannya. Tapi bukan itu yang membuatku ada di Skopje bersamanya.

Kuterkam tubuhnya dan kutelusuri lehernya, seperti yang aku lakukan tadi malam. Matanya terpaku ke jendela, menerobos kaca.

“Kenapa?” Kali ini aku yang berbisik di telinganya.

“Kamu bikin aku cemburu.”

Merajuk. Suka sekali aku saat dia merajuk seperti itu. Bukan marah. Sama sekali lain. Tak akan ada yang menyukai Vey saat dia marah. Tapi, saat ini dia bukan marah. Dia merajuk. Itu selalu menjadi tanda atau pancingan bagiku untuk mulai mencumbunya, memberinya keindahan-keindahan, yang kadang-kadang berupa janji-janji kosong dan kebohongan-kebohongan manis. Tapi dia menyukainya. Dia sangat menikmatinya meski aku yakin dia tahu aku membohonginya. Itukah yang tak bisa dilakukan suaminya, membisikkan kebohongan-kebohongan manis yang semu?

“Jangan pikirkan dia kalau kamu lagi berdua sama aku.” Suaranya mulai terdengar seperti desahan. Jari halusnya mencubit wajahku, yang tengah tenggelam dalam kehalusan dan keharuman leher panjangnya. Cubitan itu sama sekali tidak menyakitkanku.

“Tak ada yang aku pikirkan selain kamu.”

Matanya mulai terpejam.

“Mana mungkin aku sempat memikirkan orang lain saat kamu ada di sini.”
Tubuhnya semakin merapatiku.

“Aku tak akan pernah membiarkan kamu pergi, Vey.”

Tangan halusnya bergerak liar mencengkeram bahuku.

“Aku akan peluk kamu sampai aku tak bisa memeluk lagi.”

Vey mulai mengerang.

Erangan itu berpacu dengan bisikan-bisikan kepalsuanku hingga sinar matahari pagi berikutnya merekah dan berjinjit di bingkai jendela kamar itu. Sungguh. Skopje menjadi kota yang hangat hari itu.

***

Masih terbilang sangat pagi bagiku. Kabut masih melayang-layang melekati mata. Pandanganku rasanya terbalut helaian kapas dingin yang mengambang di udara. Tapi, aku harus mengantar Vey saat ini juga. Ia akan meninggalkan Skopje dengan penerbangan pertama. Aku? Kami tak bisa mengambil risiko yang tak perlu dengan berada dalam satu pesawat yang sama, bukan? Teman suaminya, sepupu istriku, sahabat adik suaminya, bude dari suami kakak istriku,... Terlalu banyak orang yang bisa meluluhlantakkan keindahan-keindahan yang menggeliat, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman kekejaman rutinitas dan takdir yang membosankan.

“Kapan kau temui aku lagi?”

Kali ini dia yang menelusup di leherku.

“Bulan depan aku Venice. Kamu bisa susul aku?”

Kukecup lambut legamnya. Wangi. Aku yakinkan kulit kepalanya bisa merasakan kehangatan napasku. Pelukannya di perutku mengetat.

“Pam?”

Aku diam sejenak.

“Venice? Mau?”

“Jangan bulan depan.”

Pelukannya mengendur.

“Dua minggu lagi aja.”

Pelukannya kini terlepas. Sebentuk senyum merekah di bibir kenyalnya. Bibir itu begitu merekah hingga tak tampak sisa-sisa pagutanku di sana.

“Benar, Pam? Dua minggu lagi?”

“Mmmm.”

“Di mana?”

“Toba. Suka?”

“Asal di sana ada kamu.”

Kurengkuh lagi tubuh indahnya, yang demi Tuhan bukan merupakan alasanku ada di Skopje bersamanya.

“Venice?”

“Kau kan bisa ajak suamimu.”

Dia menenggelamkan kepalanya ke dadaku. “Jangan menjawab seperti itu kalau kau tak mau pergi.”

Aku tersenyum kecil. Aku suka sekali menggodanya dan aku tahu dia pun suka aku goda. Meski kita telah saling menggoda bertahun-tahun, kebosanan tak pernah menyelip sedikit pun. Itu yang tak ada di antara aku dan seorang perempuan yang sangat cantik dan seksi di rumahku. Itu juga yang tak ada di antara Vey dan seorang lelaki di rumahnya. Barangkali.

“Aku sudah merindukan kamu lagi, Pam.” Sekali lagi di mengurungku dengan pelukannya saat taksi yang kami naiki sudah hendak memasuki belokan ke arah airport. Ada yang ingin ditumpahkannya sebelum kita bertemu dua minggu lagi di Toba mungkin. Sementara aku? Semua sudah kutumpahkan selama tiga malam bersamanya. Di film-film mungkin aktor dan aktrisnya sudah akan saling mengucapkan “I love you”. Tapi, Vey dan aku tidak begitu. Kami selalu menemukan kalimat-kalimat yang lebih indah dari kalimat-kalimat tumpul dan mati seperti itu.
“Muka jelekmu pasti akan ada di kepalaku sampai dua minggu ke depan.” Dia menggesekkan hidungnya ke daguku.

Kurapatkan tubuhnya ke diriku. Aku tak perlu bicara apa-apa lagi. Dia tahu. Dia pasti tahu. Aku bahkan tak perlu mengucapkan apa pun saat dia memelukku untuk kali terakhir sebelum berjalan menuju pesawat.

***

Langit Jakarta memerah. Selalu begini. Macet di mana-mana, di barat, selatan, tengah,....Menjengkelkan! Ataukah bukan kota ini yang menjengkelkanku. Jelas iya! Kota ini dengan segala isinya adalah manifestasi rutinitas yang membosankan untukku. Takdir yang membosankan. Takdir yang menyeretku memasuki sebuah rumah dengan seorang perempuan yang berwajah elok dan bertubuh molek tapi membosankan. Rumahku. Takdir yang takdir, yang membelenggu, yang memunculkan kebosanan yang memukul-mukul kepalaku dari pagi hingga malam selama...dua minggu ke depan, sebelum aku menemui Vey di Toba.

Ah, Vey. Aku sudah merindukanmu lagi.

******

Palmerah, sepanjang 2004





















S2

Surat Bulan Hijau

Keras pintu diketuk. Jam berapa ini? Sial! Masih subuh. Sinar matahari belum lagi menjilat kaca jendela kamarku.

Dok! Dok! Dok!

Semakin keras orang sialan yang tak tahu diri itu menggedor pintu rumahku. Berat rasanya kepalaku saat kupaksa meninggalkan bantal hangat di tempatku. Sempat tersaruk-saruk beberapa kali saat keluar dari kamar, di depan kamar mandi, dan saat melintas di ruang tamu, aku akhirnya sampai di pintu.

Dok! Dok! Dok!
Dok! Dok! Dok!

Kesadaranku tercambuk. Kubuka pintu dengan cepat. Teramat cepat buat orang sepertiku, yang memiliki jantung dan paru-paru yang dikarati nikotin dan tar.
Tak ada siapa-siapa. Tak ada siapa-siapa? Ya, tak ada siapa-siapa! Gila! Mana mungkin ada orang yang bisa langsung menghilang dari pintuku dalam hitungan detik seperti itu. Mustahil. Mustahil!

Kakiku menginjak sesuatu saat menjejak keset di muka pintu. Di atas keset berwarna biru yang bertuliskan “welcome” (tulisan yang ada di semua keset di rumah mana pun, yang membuatku makin yakin bahwa manusia, termasuk aku, adalah makhluk yang sangat membosankan dan steril dari imajinasi) itu kulihat sehelai amplop tipis. Amplop yang dapat kita temui di warung dan toko mana pun di dunia. Ukurannya standar dan seragam. Bentuknya pun persis sama. Motifnya pun jelas-jelas merupakan hasil mesin penumpul kreasi.

Kujumput amplop itu, kuperkosa dan kukeluarkan isinya. Sehelai kertas putih, yang lagi-lagi bisa kutemukan di toko mana pun, berisi beberapa baris tulisan, tang diketik menggunakan mesin tik yang juga bisa kutemui di toko mana pun di bumi ini.

“Jangan pernah menantang angin dan matahari. Matahari hijau bisa menjadi sangat hangat dan menyenangkan, sedangkan angin bisa menjadi sangat semilir dan menyejukkan.. Jangan buat mereka panas mendidih atau mengamuk berputar-putar. Percaya jugalah, teman, bahwa bulan kita memang biru. Terima apa yang ada. Ikuti mau mereka. Ini toh bukan surga....”

Apa ini? Puisi? Pepatah? Ujar-ujar? Nasihat? Tampaknya iya. Ini nasihat. Siapa pula orang jenius yang rela mengetuk pintuku di pagi pekat seperti ini, menggedor pintuku seperti buldozer, dan memberikan baris-baris nasihat bodoh ini?
Gila! Aku harus kehilangan tidur nikmatku hanya untuk diberi nasihat. Sialan!

***

Dok! Dok! Dok!

Aku tiba-tiba terduduk. Tidurku lenyap. Pandanganku kabur. Aku rasanya tak percaya pada pendengaranku.

Dok! Dok! Dok!

Gila! telingaku tak bohong. Pintu itu digedor lagi! Kunyuk! Pasti orang yang kemarin. Pasti si jenius itu. Tanpa tersaruk-saruk lagi, aku berkelebat menuju pintu. Luar biasa! Hanya dalam hitungan sekon—yang kata beberapa ahli lebih cepat dari detik---aku sampai di sana dan membuka lembar kokoh papan kayu mahoni itu. Lagi, tak ada siapa-siapa. Tak ada? Ya, Tak ada!

Selayaknya makhluk membosankan lain, aku otomatis menukikkan pandangan ke keset, di mana kemarin selembar surat diletakkan oleh si jenius. Aha! Surat lagi!

Kuhenyakkan bokongku di sofa tuaku—yang kata pacarku merupakan asbak terbesar di dunia—dengan tak sabar. Kali ini amplop itu kuperkosa lebih ganas. Kucabik-cabik menjadi kepingan-kepingan putih yang langsung teronggok di atas meja.

Surat lagi. Dari si bedebah jenius itu lagi tampaknya. Beberapa baris lagi.

“Jangan coba alirkan air ke tempat yang lebih tinggi. Bukan begitu air menjalani takdirnya. Jangan coba buat bulan lebih terang dari matahari. Jangan pula katakan bahwa bulan itu putih dan matahari itu kuning. Bukan begitu takdirnya. Garib sekali jika bulan menang terang atas matahari. Biarkan air terus di bawah dan bulan tetap redup. Sudah seharusnya mereka begitu.”

Bah! Petuah lagi. Malaikat pemberi nasihatkah dia? Tak punya pekerjaan lainkah si monyet ini selain memberi nasihat-nasihat tak perlu di pagi buta?

Kali ini aku tak tidur lagi. Keanehan si gila ini sontak menghapus kantukku. Sambil menghirup kopi kental dan membiarkan tar menghangatkan aliran darahku, kupandangi surat itu sekali lagi. Semua terlihat biasa dan normal. Tak ada salah eja atau kesalahan penggunaan tanda baca. Kertasnya pun biasa. Tak ada yang istimewa seperti kop, tanda tangan, logo, atau watermark. Semua biasa. Datar. Membosankan. Sama sekali tak mencerminkan pergolakan. Tenang. Datar. Statis.

Ah, gila!

***

Si jenius keparat itu benar-benar menjengkelkan. Bukan hanya di pagi pekat dia datang. Di siang hari pun surat-surat itu datang. Bahkan begitu juga di sore hari. Lama-lama, surat-surat datang di antara pagi dan siang juga, di antara siang dan sore, di antara sore, dan malam, dan di antara malam dan pagi pula. Nasihat-nasihat sialan itu selalu ada di keset depan pintuku tiap kali aku membuka pintu. Sepuluh kali aku buka pintu itu, sepuluh surat mencolok mataku. Seribu kali kubuka pintu, seribu pula surat yang menyerangku.

“Kau benar-benar bergajul. Kau pertanyakan alir angin dan air. Kau pikirkan pula gumpalan awan-awan di langit. Apa yang ada di kepala kecilmu? Tak bisakah kau jalani takdirmu seperti manusia lain?”

Dia mulai menyebutku “bergajul”. Di surat lain dia panggil aku “berandal” dan “gembel”! Kurang ajar!

Di hari lain:

“Hai bedebah. Kau benar-benar berpikiran gabuk dan majal. Kau tak sadari betapa garib alir pikiranmu. Kau sok tahu. Angin ya tetap akan mengalir begitu dan matahari akan tetap seterang itu saat bulan seredup itu. Jangan kau harap semua seimbang sempurna. INI DUNIA, BUKAN SURGA! Ingat juga monyong: langit kita kuning!”

Bah! Dia mulai menghina. Keparat penasihat dan pemberi ujar-ujar pengecut ini telah menghinaku. Pertama dia membujuk. Tak mempan, dia kini menghina. Apa yang akan dilakukannya nanti berikutnya?

“Anjing buduk! Tak kau hentikan pikiranmu, akan ku pecahkan kepalamu hingga tubuh ringkihmu tergelintang dikerumuni cacing. Kami mulai muak dengan pikiranmu yang kerap mengempar, mengemol ketenangan takdir. Ke mana pun kau melangkah, kau harus mulai berhati-hati, keparat!”

Aha! Dia mulai mengancam. Kami? Dia menyebut kami? Banyak mereka rupanya. Bukan satu yang mengirim petuah dan ancaman keparat ini. Banyak rupanya. Setan alas! Seberapa banyak mereka? Aku tak peduli! Seribu orang pun akan kulibas!


Kian lama, surat-surat itu tak hanya kutemui di atas keset di depan pintuku. Saat aku di kamar mandi, ketika aku menunggu bus di halte, waktu aku memasuki selasar pasar hiper, saat aku antre di apotek...pokoknya di mana-mana lipatan amplop surat yang menghujatku selalu kutemui. Keparat! Seisi kota ini telah bersekongkol mengutuk pikiranku. Mungkin bahkan seisi negara ini. Tidak, mungkin seisi dunia!


***

Angin mengalir lambat. Daun-daun bergoyang manja di ranting-ranting yang tampak kokoh coklat gemilap. Permukaan danau sangat tenang, bening seperti kristal kelas satu.

Aku sedang berduaan dengan wanitaku. Sudah lama kami tak berduaan seperti ini. Kesibukan kota barbar yang modern telah merampok waktu kami dan memperkosa momen-momen kemanusiaan kami. Di pondok di tepi danau ini kami berharap dapat me-recharge kemanusiaan itu.

Telah puluhan kali ia tenggelam dalam pelukanku. Telah ribuan kecupan kuhujankan padanya sejak kita tiba di sini. Dia seperti tak pernah berhenti menagih cumbuan-cumbuanku, seperti saat ini. Ia sudah menenggelamkan tubuh indahnya di pangkuanku.

“Alferro-ku sayang....” Kemanjaannya yang terbungkus kelembutan ujung jemari dan bibirnya mengusap leher dan daguku.“Kapan kau akan menikahiku?”

Jemarinya mulai menggelitiki telingaku.

“Secepatnya sayang. Secepatnya.”

“Benar?” Dia menatapku dengan mata mungil berbinarnya. Mata itu tampak hijau menyejukkan. Dia memang cahaya hidupku. Ribuan orang boleh mengutukku. Selama aku memiliki wanita ini, aku akan baik-baik saja.

“Tapi....” Pandangannya terlempar ke tengah danau. Kegalauan menyelimuti keputihan kecantikannya. Matanya diempohi kerisauan yang keruh. Ah....

Kurengkuh lagi pinggangnya dan kutubrukkan pandangannya pada tatapanku.

“ Apa yang bisa membuatmu galau saat aku ada di sini, di sampingmu?”

Ia tidak menjawab. Pandangannya terlempar lagi. Kali ini ke arah gundukan tanah berumput di tepi danau.

“Aku ingin memiliki hidup yang normal, Alferro.” Kalimat itu meluncur setelah kubiarkan ia tenggelam dalam keheningan beberapa saat.

Normal? Aku tak mengerti.

“Aku ingin kau mengatakan padaku sekarang bahwa langit itu kuning, bulan itu biru, dan matahari itu hijau. Aku ingin kau biarkan air mengalir ke bawah dan bulan lebih redup dari matahari. Aku ingin....”

Ucapannya terhenti karena aku kini telah berdiri, menghenyakkan tubuhnya di kursi. Aku tak percaya apa yang kudengar.

“Dengar, Alferro sayang...Mereka benar. Langit kita ini kuning, dan memang sudah seharusnya begitu.”

Apa?!

“Sudah seperti itu matahari, bulan, air, dan angin sejak zaman kakekku dan kakekmu.”

Hah?!

“Sibukkan dirimu dengan mencintaiku. Tak perlu kau kutuki ini semua. Aku tak mau aku, kau, dan anak-anak kita dibenci banyak orang. “

HAH!!

Gila! Ini gila! Ini benar-benar sinting. Permata jiwaku....dia adalah mereka? Ah, sinting. Aku tak dapat berpikir lagi. Dadaku tiba-tiba tertohok. Terpukul. Matahari tiba-tiba menjadi hijau dan langit menjadi kuning. Aku tak dapat berpikir lagi. Sesak. Semua sesak. Udara tiba-tiba menghilang. Aku sesak.

GILA!

*****

Jakarta, Juli 1997






P24

Debu di Cikarang

Telah kubiarkan kau merengkuhku perlahan-lahan:
kau tahu kau mesti berhati-hati dengan keakuanku.
Lalu kubiarkan kau memasuki nadi dan kepala:
kau mulai berpikir bahwa darah ini milikmu.

Lalu kita menahbiskan diri dalam kebohongan-kebohongan
biru menggantung di tiap desah yang kita selalu semai
di jalanan panjang itu
di bawah temaram lampu coffee shop itu
dan di tempat lain di mana kau melenguh dengan keras

kerap kamu minta aku mengingkari takdir
selalu kau seret aku menjauhi alir darah dan degup jantung
torehkan tanda-tanda di kepala, dada, leher, dan sekujur tubuh
hingga kau desahkan satu teriakkan di lubang telinga:

-Kau harus jadi milikku....



Cikarang, Palmerah, Bogor, Pd. Indah
April 2006

P24

Tenggelamnya Satu Kepala

tenggelam lagi
kepala itu
pada nanah-darah ribuan
depa di belakang:
nyinyir amis sepikan malamnya


tenggelam lagi
kepala itu
pada diamnya ribuan
depa di belakang:
ia diam dalam tikaman-tikaman

tenggelam lagi kepala itu:
ia sendirian.
Dan ia tahu:
selalu sendirian


Palmerah, Sept. 5, 2006

P23

Reborn

Tak ada yang menantang angin
dan meninju badai kali ini.
Tak ada yang mengacungkan gelegak kemarahan
pada langit yang tiba-tiba hitam.
Dia tak puja lagi binar keangkuhan di mata membaranya,
tak digenggamnya lagi pongah itu dalam batin tipisnya.


Angin kini mengalir,
dan belum pernah begitu sebelumnya.
Menjalari dahan-dahan putih di ujung pagi,
dan sungguh belum pernah begitu sebelumnya.
Menghinggapi jendela-jendela dan berbisik perlahan,
dan Yang Maha Sayang tahu belum pernah begitu sebelumnya.

Lelaki kecil itu terkulai,
dalam belaian cumbu perih di dadanya,
yang menjalari setiap urat batin otot hati,
kini mengeras membatu membesi.
Cumbu perih luka belai kelelakiannya:
satu lelaki terlahir kembali.



Palmerah
June 30, 06

P22

Dingin

Diam itu begitu dingin
Menelusup dalam rongga jantung
Merobek tiap urat rasa:
Aku tak mau merutuki angin putih tadi malam, perempuan.


Diam itu begitu dingin
Tanganku menggantung dalam keakuan
Yang kerap menusuk semua hati:
Aku benar-benar tak mau merutuki angin putih ini.

Palmerah
Jumat, 2 Juni 2006
Ps: After watching those codes....

P21

Standing as I Was Told

Standing
pretending to be strong am I
in this dark thick cyclone?


(you told me to stay here to rise the belief, woman)

Standing
these eyes filled with dust and fire
in this dark thick cyclone:
do you see my legs shaking holding
the black past?

(you told me to, woman)

As fools passed by,
evils left,
I choose to be surrounded by this pains.

(I do as I was told by you, woman)

Standing
this twister rolled me in this
agony,
anguish,
infliction.
Blood is streming
wetting this black chest of mine:
I then ejaculated,
floating to that white hope:
I am now a man.

(I can't stand now no longer, woman. The legs are gone. But I stay here as I was told by you.
Am I a man yet?)



Palmerah
May 1, 2006