Wednesday, March 7, 2007

P13


Requim


Dia selalu berteriak lantang, lelaki itu, menentang siang dengan jiwa terbentang. Alvero Si Mata Nyalang, mereka mengingatnya. Jiwa degil yang jalang berlidah gadamala. Api selalu menyemburat dari mata dan sela-sela bibir.

Dalam pusaran angin dia hidup, lelaki itu, melarutkan hati batu-gelagar: Alvero Si Jaduk Taufan, mereka bergidik mengingatnya.

(Nama-nama berlalu, wajah-wajah lewat beriring, tawa-tawa mengalir bergantian, di antara desah dan lenguh.)

Alvero Si Mata Nyalang yang tapis terkulai di sudut-sudut tanya, dikurung ribuan syak dan praduga: keberanian luruh satu-satu, bertakung di ujung jari-jari.
Alvero Si Mata Nyalang yang sembada daya, bersimpuh di hadapan satu nama dan lukisan lepasnya tawa: kejadukan telah lama tertepis dalam kesunyian, rosok dalam kesejatian semara.

(Nama-nama berlalu, wajah-wajah lewat beriring, tawa-tawa mengalir bergantian, di antara desah dan lenguh. Hanya berlalu. Julurkan tanganmu, perempuan. Dia ingin tahu pisau apa yang kau siap tikamkan di situ, jika ada.)


Jakarta, April 2006


Angin di luar masih meronta-ronta.

No comments: