Satu Pengakuan
Aku hendak membuat pengakuan
tentang indah kegundahan
dan culasnya embun-embun berhamparan
serta degilnya seringai bulan
pun titik-titik yang tercurah berlelehan.
Tidak, bukan itu pengakuanku.
Aku hendak mengakui
malam ini begitu terasa pagi
kepekatan kelamnya mengental basi
gelapnya kini tak pernah pasti.
Ah, tidak, itu bukan yang hendak kuakui.
(Kau masih menatap dengan mata indahmu yang penuh cerita duka, senyummu benar-benarserupai tawa. Telah kau tarik lagi tirai itu, gadis?)
Tidak, kini kuakui tak ada yang kuakui.
Centrum of Arrogance, Early April 2006
No comments:
Post a Comment