Debu di Cikarang
Telah kubiarkan kau merengkuhku perlahan-lahan:
kau tahu kau mesti berhati-hati dengan keakuanku.
Lalu kubiarkan kau memasuki nadi dan kepala:
kau mulai berpikir bahwa darah ini milikmu.
Lalu kita menahbiskan diri dalam kebohongan-kebohongan
biru menggantung di tiap desah yang kita selalu semai
di jalanan panjang itu
di bawah temaram lampu coffee shop itu
dan di tempat lain di mana kau melenguh dengan keras
kerap kamu minta aku mengingkari takdir
selalu kau seret aku menjauhi alir darah dan degup jantung
torehkan tanda-tanda di kepala, dada, leher, dan sekujur tubuh
hingga kau desahkan satu teriakkan di lubang telinga:
-Kau harus jadi milikku....
Cikarang, Palmerah, Bogor, Pd. Indah
April 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment